Apakah kita bangga mengatakan diri kita sebagai mahasiswa?
Apakah kita nyaman diri kita disebut sebagai aktivis?

 

Kenapa kita suka menghabiskan waktu mendebatkan pendidikan ekonomi sosial politik sedang disaat yang sama puluhan anak harus putus sekolah?
Kenapa kita sibuk berdikusi di dalam ruangan ini padahal di luar sana anak-anak buta huruf butuh sedikit ajaran?

 

Kita beralasan…
“Kita tidak bisa mengamalkan ilmu kita sekarang”
“Belum cukup untuk terjun ke masyarakat”
“Pemikiran kita masih dangkal.”

 

Betapa tidak bergunanya pendidikan tinggi jika akhirnya yang keluar adalah manusia-manusia yang malas mengabdi
Betapa serakahnya produk perguruan tiggi yang mengeruk banyak ilmu sedang enggan berbagi

 

Bukankah, kita persetan

Tinggalkan Balasan