Debat Terbuka, Calon Tunggal BEM UM Menanggapi Perihal OMEK

0
Logo-logo Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus

Debat terbuka calon senator Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Calon Presiden Mahasiswa (Capresma) serta Wakil Presiden Mahasiswa (Cawapresma) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang (UM) telah dilaksanakan di Aula A3 Lantai 2 pada Jum’at (24/11). Debat terbuka merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Pemilihan Mahasiswa Raya (Pemira) UM. Debat tersebut dihadiri oleh 51 mahasiswa dan 20 anggota tim sukses.

Mekanisme debat diawali dengan penyampaian visi dan misi dari masing-masing calon, menjawab pertanyaan dari moderator, kemudian menjawab pertanyaan dari audience dan diakhiri dengan closing statement. Pertanyaan untuk calon senator DPM, yakni 1 pertanyaan dari moderator dan 1 pertanyaan dari audience. Sedangkan pertanyaan untuk Capresma dan Cawapresma, yakni 5 pertanyaan dari moderator dan 5 pertanyaan dari audience.

Debat sesi pertama dimulai dengan penyampaian visi-misi oleh calon senator DPM yang terdiri dari 5 calon dari Fakultas Ekonomi (FE), 5 calon dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS), 3 calon dari Fakultas Teknik (FT), dan 1 calon dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Sementara sesi kedua dimulai dengan penyampaian visi misi oleh calon tunggal Capresma dan Cawapresma BEM.

Cawapresma: Kampus Akan Gaduh Bila OMEK Dilegalkan

Pada sesi tanya jawab Capresma dan Cawapresma BEM, moderator mengajukan 5 pertanyaan. Pertama, moderator bertanya bagaimana sikap Capresma dan Cawapresma BEM menanggapi mahasiswa UM kampus 2 dan 3 yang kurang merasakan kehadiran BEM UM di tengah-tengah mereka. Cawapresma menjawab akan menyiapkan agenda khusus untuk mahasiswa UM kampus 2 dan 3. Sementara Capresma mengatakan akan melakukan koordinasi yang lebih intens dengan BEM Fakultas (BEMFA) kampus 2 dan 3 dengan tidak melangkahi wewenang mereka.

Kedua, moderator menanyakan keberanian Capresma dan Cawapresma BEM berjuang untuk menurunkan UKT demi kesejahteraan mahasiswa. “Kami akan berusaha untuk mengajukan kepada Rektorat. Tidak usah muluk-muluk, ikuti saja prosesnya, tapi kami juga tidak boleh melangkahi DPM,” kata Capresma. Sementara Cawapresma menjawab akan memaksimalkan peran Menteri Kebijakan Publik untuk proses penurunan UKT.

Ketiga, moderator bertanya mengenai kebijakan melegalkan Organisasi Ekstra Kampus (OMEK) mengingat kampus lain banyak yang tidak mempermasalahkan hal ini. Capresma mengatakan bahwa Organisasi Intra Kampus (OMIK) dan OMEK merupakan hal yang berbeda. Menurutnya OMIK dan OMEK tidak bisa dipadukan menjadi satu. Cawapresma pun menanggapi pertanyaan moderator. ”Kalau organisasi ekstra yang mengarah pada gerakan mahasiswa dilegalkan itu tentu gaduh sekali kampus ini karena pada dasarnya gerak dari organisasi intra dan ekstra itu sudah berbeda.”

Keempat, moderator bertanya tentang tantangan menjadi calon tunggal. Lalu, Capresma menjelaskan kesusahan menjadi calon tunggal. “Mengumpulkan suara hingga 50+1% dari mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya tidaklah mudah,” ungkapnya. Namun, ia berkata tetap semangat walaupun sebagai calon tunggal karena ingin berkontribusi aktif dalam demokrasi di kampus UM.

Terakhir, moderator bertanya apa kekurangan BEM UM periode lalu yang harus diperbaiki, Cawapresma mengungkapkan bahwa BEM UM periode lalu kurang dalam gerakan dan koordinasi dengan aliansi-aliansi BEM lainnya. Sedangkan Capresma mengungkapkan BEM UM periode lalu kurang menjalin koordinasi dengan Organisasi Mahaiswa (Ormawa) di dalam kampus dan akan mengusahakan BEM UM untuk menjadi anggota tetap BEM Seluruh Indonesia (SI).

Capresma dan Cawapresma Siap Ditegur Bila Terbukti Berkepentingan Lain

Sesi berikutnya adalah pertanyaan yang diajukan oleh para audience yang hadir. Pertanyaan pertama adalah langkah teknis seperti apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan BEM UM untuk sampai di tingkat regional bahkan nasional. Cawapresma menjawab akan meningkatkan koordinasi dengan BEM SI dan Capresma berkata akan membuat Kementrian Luar Negeri.

Audience debat terbuka yang kedua bertanya terkait visi-misi UM. Capresma tidak mengetahui secara rinci namun hanya mengetahui point yang dianggapnya penting yaitu mewujudkan kampus yang Tridarma. Kemudian ia mempertanyakan bagaimana keselarasan visi-misi Capresma dan Cawapresma dengan visi-misi UM. Lalu, Capresma menjawab bahwa untuk masalah kepemimpinan tidak harus selaras dengan visi-misi UM karena menurutnya kepemimpinan tidak bisa dilihat dari satu hal saja.

Pertanyaan audience ketiga tentang slogan “Gerak Inspirasi” yang diusung oleh Capresma dan Cawapresma. Capresma menjelaskan bahwa sebagai BEM tidak hanya gerak saja namun juga harus menginspirasi dan mendorong bagi mahasiswa lainnya.

Pertanyaan keempat dari audience yang berkata sebagai mahasiswa biasa dari FIS. Ia menyatakan bahwa pemimpin harus peka terhadap lingkungan, sehingga BEM UM tidak hanya sekedar menjadi Event Organizer saja. Kemudian ia bertanya apakah Capresma dan Cawapresma berani membawa BEM UM lebih aktif dan responsif. Menanggapi hal tersebut, Cawapresma menjelaskan bahwa BEM UM periode lalu sudah melakukan banyak aksi nyata, sehingga di periode berikutnya ia akan melanjutkannya.

Audience keempat pun kembali melontarkan pertanyaan tentang cara membedakan kepentingan OMEK yang diikuti Capresma dan Cawapresma. Capresma mengatakan bahwa mereka akan bersikap profesional. “Kami tidak pernah mencampuradukkan kepentingan OMEK kami dengan BEM, kalau terbukti kami melakukan kesalahan, tegur kami!” (ing/aqb//hna)

Tinggalkan Balasan