Kita dapat berkaca dalam kehidupan sehari-hari, di era milenial yang marak dengan kebutuhan konsumtif terhadap suatu gadget dan media sosial, masih banyak perspektif yang salah kaprah dalam menjalani suatu isu di depan mereka. Baik isu sosial, isu politik dan permasalahan dalam hidup ini terlebih berdasarkan tingkat reaksioner masyarakat melalui perubaha perilaku secara situasional yang sering kita sebut viral. Seakan ingin menjauh, namun tidak bisa dengan hanya mengepalkan jemari tangan. Permasalahan yang sering terbelunggu dalam khalayak ramai ini, hampir menjadikan suatu momok tersendiri dalam era ini.

Ada dua kesalahan dalam berlogika menurut saya dalam perkembangan moderat ini. Pertama “Menerima ide-ide tanpa berpikir” adalah virus yang meracuni kebutuhan manusia dalam pembebasan, mengolah nalar, bertanya dan berimajinasi.

Yang kedua, adapun kesalahan berlogika (logical fallacy) lainya dalam menerima suatu informasi adalah “Menyalin kebodohan demi perspektif akan dirinya, tanpa berpikir jernih dalam mengolah suatu informasi, tanpa tahu itu bakal berimbas kemana”.

Contohnya saja analogi politik, kita tidak suka berbagai permasalahan akan isu ini, namun mau tidak mau kita harus berkaca kepada isu ini dan menerapkan ke isu sosial yang ada. Mirisnya, suatu keberpihakan dalam perspektif berpikir, selalu terjadi tanpa pemahaman lebih. Opini dan hoax sangat sulit dibedakan, ditengah pembahasan yang membuat refleksi kita dalam menilai “Itu baik, dan langkah terbaik” padahal jika ditelaah kembali, hoax itu realitas adanya. Pemahaman berdasarkan perspektif pun tidak cukup untuk menilai itu tanpa harus terjun langsung untuk merasakan. Bukannya saya menyarankan untuk terjun langsung, terlebih jika suatu keresahan ada dalam analogi berpikir sudah menjadi-jadi untuk dikeluarkan. Saya hanya menekankan, seharusnya dengan adanya media yang mudah digali ini, masyarakat harus memiliki keterampilan lebih dan sikap kritis sebelum menilai sesuatu. Maka dari itu dibutuhkannya pemikiran yang jernih dalam mem-verifikasi isu yang sedang dibaca. Terkadang sebuah berita tidak memiliki kaidah fairnes. Bacalah lebih sumber-sumber yang tertera di sumber artikel, baca dengan pikiran jernih dan perlu untuk mengontrol emosi “Jangan sampai berita mengubah pemikiran seseorang, sehingga membuat sesorang melakukan ujaran kebencian”.

Memang sebuah emosi (locus internal) selalu datang sebagai kepedulian sosial, dan sebuah emosi terkadang menghancurkan kita untuk menyerukan media hoax.

Contoh paling mudah dijumpai adalah informasi tertera di facebook. Mereka men-screenshot isi berita, membagikan di profil pribadi, dan menyebarkan ke teman-temannya. Jika kita mengulik laman facebook, hampir semua media tidak terverifikasi sumber dan kode etis jurnalisnya. Saya sangat miris ketika melihat orang-orang yang masih saja melakukan tindakan yang salah kaprah ini, meskipun menggunakan alih-alih membela kebenaran apa yang mereka yakini. Membela boleh saja, namun jangan sampai pembelaanmu menghancurkan apa yang kau yakini dengan hati, seni berpikir secara kritis harus digabungkan kecintaan membaca supaya dapat berlogika dengan baik.

Sebuah berita harus memiliki sifat berimbang (balance), tidak berat sebelah (fairness), dan akurat (Andreas – Orde Media hal 44).

Anak umur 10 tahun pun bisa saja menjadi jurnalis dadakan. Oleh karena itu negara harus berbuat lebih dalam literasi digital. Pemahaman sejak dini dirasa sangat penting guna terciptanya sikap kritis masyarakat.

Contoh paling mudah dijumpai masyarakat saat ini adalah informasi tentang isu sensitif yang membuat masyarakat agresif untuk menyebarkan berita tersebut. Terutama isu Politik dan Agama yang marak saat ini.

Dilansir dari status seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya, ia membagikan Screenshot lewat dinding facebook-nya yang bertuliskan, “Yuk kita fitnah ***** rame-rame. Kita buat adu domba sesama umat Islam, biar barisan laskar jihad mereka terpecah belah setelah itu kita bantai Umat Islam & kita usir ke tanah Arab.”

Konteks diatas merupakan ujaran kebencian (hate speech). Saya tidak mengolah data lebih, namun bagi saya itu menyalahi kaidah dalam penyebaran informasi. Saya riset lagi berita tersebut, tidak ditemukannya status Si pembuat fitnah tersebut. Saya tidak menemukan di mana-mana, namun media ramai menyuarakan itu. Entah demi ingin meraup keuntungan karena sedang viral atau memang salah satu keberpihakan media seperti yang sudah saya jelaskan diatas, mereka menyuarakan berita yang fana dan jelas ambiguitas dalam berpikir. “Toh bisa saja itu akun palsu, atau bisa saja ingin menjatuhkan seseorang dengan konteks yang tidak ada kemudian diada-adakan.”

Kita boleh saja membela, namun bukan dengan itu caranya. Itu menimbulkan provokasi. Kau bisa saja di tuduh penyebar hoax, malah bisa dilaporkan dengan pencorengan nama baik sesorang (UU ITE). Di lain pihak, kita memang tidak bisa membiarkan sesuatu yang dirasa tidak beres. Memang salah satu suara atau aspirasi lah yang bisa membenamkan hal yang tidak beres tersebut.

Jika hanya mengandalkan opini sebagai keberpihakan, atau malah untuk menyerang orang yang tak sejalan dengan pemikiran kita, itu sangat irasional. Sementara media nasional atau media yang benar-benar menuju aspirasi masyarakat (idealisme), kewalahan melakukan pemahaman untuk masyarakat mengenai isu hoax atau yang tidak bisa ditinjau kebenarannya ini. Selain penyebaran informasi yang kurang bertanggungjawab dan tidak ada benang merah yang kontradiktif, debat di situs media sosial adalah hal yang praktis sebagai praktisi yang mereka yakini. Debat itu bukan penyelesaian masalah, melainkan sebagai pertukaran argumen. Perang komentar pun tidak lagi sebagai media aspirasi, bahkan tidak lagi demokratis. Perang komentar hanya pembelaan diri agar pemikiran kita bisa terlihat lebih baik, atau dalam istilah “kita harus menang dalam debat”. Sangat miris melihat media sosial sebagai perpecahan. Kebijakan negara pun tidak bisa melakukan literasi berpikir masyarakat.

Mulai saat ini berhati-hatilah dalam menyebarkan atau menulis suatu informasi. Informasi harus bisa ditinjau kredebilitas dan keakuratannya. Menyuarakan suatu informasi, berarti menyuarakan suatu kebenaran. Bagaimana jika kebenaranan yang menurutmu benar, benar-benar bisa dikatakan kebenaran? Mulai belajar dan mengenal realiatas.

“Informasi bukan soal Profesionalisme atau pun Idealisme, tetapi dimana kita berdiri dalam melihat isu disekitar.”

Tinggalkan Balasan