Beranda RESENSI Telusur Sejarah Sastra Indonesia pada 1950-1965

Telusur Sejarah Sastra Indonesia pada 1950-1965

0

Judul : Lekra, Lesbumi, Manifes Kebudayaan: Sejarah Sastra Indonesia
Periode 1950-1965.
Penulis : Dr. Dwi Susanto, M. Hum.

Penerbit : CAPS (Center Academic Publishing Service)

Cetakan : Pertama, 2018
Tebal : X+250 halaman.

Sedikit orang yang tahu pada masa 1950-1960an selain terjadi huru-hara di bidang politik, juga berimbas pada dunia sastra di Indonesia. Taufik Ismail menyebut masa-masa ini sebagai “Prahara Budaya”. Pada era ini, anda akan disajikan berbagai polemik dalam mengekspresikan cara untuk menjadi Indonesia. Sebuah hal yang lumrah ketika suatu bangsa baru saja memenangkan perjuangan nasionalisme kebangsaannya.

Dwi Susanto melalui Buku Lekra, Lesbumi, Manifes Kebudayaan: Sejarah Sastra Indonesia Periode 1950 1965 ini, menunjukkan bahwa pada era 1950-1965, pemikiran dan gagasan pada dunia sastra Indonesia menunjukkan dirinya dengan jelas. Tentu saja, hal-hal yang berbau politis juga turut menyertai perkembangan dunia sastra Indonesia masa itu. Hal tersebut sebenarnya sudah tampak sejak masa kolonial dan terus berlanjut hingga masa kemerdekaan.

Setelah periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terjadi perdebatan sengit di bidang kebudayaan, khususnya sastra di Indonesia. Perdebatan tersebut terjadi antara seniman dan cendekiawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia dengan semboyan politik menjadi panglima melawan kelompok non partisan, Manifes Kebudayaan (Manikebu). Golongan Manikebu menolak politik sebagai panglima di bidang seni dan lebih memilih seni untuk seni dengan berideologi Humanisme Universal. Dalam perkembangannya, muncul juga peserta “debat” lain, yang bisa dikatakan condong ke kubu yang sudah ada, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).

Sayangnya, Dwi Susanto hanya menyajikan gambaran “lapisan luar” fenomena yang terjadi dalam dunia sastra Indonesia periode 1950-1965. Dengan kata lain, buku ini belum menyajikan gambaran yang analitis dan kritis. Namun, buku ini bisa menjadi pengantar bagi pembacanya, sebagai penyaji data dan keadaan sastra Indonesia periode 1950-1965.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan