Mengabadikan Ingatan pada Momen dalam Lensa

0
Foto: Lisa SIAR

Kira-kira apa yang akan terlintas dalam benak ketika mendengar rangkai kata “Momen dalam Lensa”? Sepertinya bayangan orang-orang dengan berbagai ekspresi bahagia akan terlintas dalam pikiran. Hal demikian diungkapkan oleh seorang pengunjung bernama Ishaq Bima Ramadhan saat bertandang ke pameran pascadiklat angkatan 35 Himpunan Mahasiwa Penggemar Fotografi (Himafo) Universitas Negeri Malang (UM). Namun, bayangan itu nampaknya digantikan dengan kekaguman melihat berbagai karya foto yang ternyata memperlihatkan hampir semua genre foto dan tidak hanya terpaku pada satu genre saja.

Menurut penuturan Bima Putra An’naba selaku ketua pelaksana pameran, “Momen dalam Lensa” dipilih sebagai tema karena terkesan ringan dan hampir semua aspek fotografi bisa masuk kedalamnya. Momen dalam lensa dinilai mudah diaplikasikan karena memang banyak sekali momen yang bisa kita temui di keseharian atau sederhananya momen-momen tersebut bisa dengan sengaja diciptakan.

Berbicara tentang momen dan mengenangnya bisa berarti tentang banyak hal. Momen bisa begitu berarti untuk seseorang, namun juga bisa sangat dihindari karena menimbulkan jejak yang tidak ingin diingat. Momen seperti ketika bermain semasa kecil, momen ketika mata melihat suasana di Pasar Besar, momen ketika melihat nelayan menjaring ikan, atau bahkan momen ketika mendapati sebuah pelanggaran secara terang-terangan dilakukan oleh pengendara sepeda motor dapat ditemui dalam galeri tersebut.

Semua momen terekam dalam 77 foto yang dihasilkan oleh 33 pengkarya, momen yang nampak wajar namun memiliki nilai tersendiri yang terpancar. Apabila disaksikan dengan bertelanjang mata, kita akan menganggap peristiwa-peristiwa tersebut hal yang biasa saja. Namun, dalam tangkapan lensa kamera malah mampu merepresentasikan berbagai kisah yang siapa pun melihatnya akan terkesima.

Perjuangan para pengkarya dalam mendapatkan foto juga menjadi sebuah nilai tersendiri bagi para kurator pameran. Menurut Alya Rizqita Maharani, salah satu pengkarya di pameran pascadiklat, ia harus melalui proses dan perjuangan yang panjang untuk mendapatkan sebuah foto bertajuk “Menjemput Rezeki” yang menggambarkan seorang nelayan yang tengah menjaring ikan di Waduk Selorejo Ngantang. Alya mengatakan bahwa dirinya harus rela berangkat setengah empat subuh demi mendapatkan foto yang bagus. Semua yang dilakukan para pengkarya juga patut diapresiasi. Karena menangkap sebuah momen, mengabadikannya, dan menjadikan momen tersebut bisa dinikmati oleh orang lain bukan sebuah hal yang mudah.

Foto yang dihasilkan oleh para pengkarya kemudian diajukan pada kurator untuk dikurasi sebelum akhirnya dipamerkan di Galeri Soeparno yang berlokasi di kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UM. Pertimbangan kurator ketika proses kurasi menentukan apakah karya yang telah mereka potret bisa dipajang di pameran atau tidak.

Tantangan yang harus dihadapi oleh para pengkarya selain proses kurasi yang ketat adalah cuaca. Yuliana Syafin, salah satu pengkarya dalam pameran pascadiklat 35 Himafo, mengaku bahwa cuaca adalah faktor penting ketika berburu foto apalagi jika mengambil konsep street atau jalanan. “Saya coba ambil Pasar Besar beberapa kali, konsepnya ganti-ganti sih. Terus, nemu konsep gini kebetulan pas cuacanya cerah jadi saya langsung punya konsep ambil deretan bangunan zig-zag pokoknya transportasi di Pasar Besar gitu,” ujarnya.

Usaha para pengkarya untuk menghasilkan jepretan yang sesuai tema dan matang secara teknis pun akhirnya berbuah manis. Para pengunjung mengaku tertarik denga karya-karya yang dipajang dalam pameran pascadiklat 35 Himafo. Ketertarikan itu mereka tunjukkan dalam animo mereka untuk turut serta mengabadikan dinding-dinding putih Galeri Soeparno yang dipenuhi karya dengan lensa kamera mereka.

Pewarta: Lisa Nur Maulidia dan Justitia Maulida

Tinggalkan Balasan