Beranda RESENSI Menghayati Sisi Lain Pendidikan dari Penyandang Tourette Syndrome

Menghayati Sisi Lain Pendidikan dari Penyandang Tourette Syndrome

0
Foto: filmytune

Naina Matur sedang gelisah menunggu di koridor sekolah, ia tengah menunggu panggilan interview-nya guna melamar menjadi guru di sebuah sekolah. Ia nampak gugup, namun kegugupan yang ia perlihatkan berbeda dengan kebanyakan orang. Ia terus mengeluarkan suara “Cak! Cak! Cak!” dengan tangan yang terus memukul-mukul dagu. Ketika tiba gilirannya masuk ke ruangan interview, para guru dan pengawas yang hendak mewawancarainya nampak ragu karena suara “Cak! Cak! Cak!” yang dibuat Naina tak kunjung berhenti.

Namun, dengan percaya diri Naina menjelaskan bahwa ia adalah penderita Tourette Syndrome, yakni sebuah keadaan neurologis dimana sambungan didalam otak longgar dan mengakibatkan kejutan bagi si penderita. Para guru dan pengawas lalu bertanya lebih lanjut bagaimana suara-suara itu tetap ada dan bagaimana menghentikannya. Mereka bahkan memberikan saran untuk Naina memilih pekerjaan lain yang lebih mudah. Apa yang ia jelaskan tentang Tourette Syndrome mungkin tidak membawanya diterima pada pekerjaannya, tetapi sekali lagi ia telah menjadi guru bahkan bagi para guru dan pengawas yang baru ia temui pertama kali pada saat wawancara.

Ini adalah cuplikan awal film India berjudul “Hichki” yang diperankan oleh Rani Mukherjee. Rani mendapatkan peran sebagai Naina, seorang perempuan yang memiliki keinginan kuat menjadi guru meskipun dengan sindrom yang membuat dia bisa ditertawakan kapanpun dan dimanapun, memiliki konsekuensi tidak diterima dan bisa jadi mendapatkan perlakuan tidak adil. Pengalaman Naina sewaktu kecil membawanya pada sebuah perjalanan yang menakjubkan untuk menjadi pendidik yang baik bagi murid-muridnya.

Film yang diluncurkan pada 23 Maret 2018 ini membawa pesan moral yang amat dalam tentang pentingnya menjadi guru yang arif dan bijaksana. Menjadi guru adalah panggilan hati dan apapun rintangannya adalah hal yang wajib dihadapi. Dari Naina kita akan meneladani sebuah perjuangan pendidik yang awalnya tidak diterima oleh seluruh murid dikelasnya, diremehkan guru-guru lain, dijadikan bahan tertawaan hingga dianggap selalu tidak sempurna oleh ayahnya sendiri. Namun, dibalik itu semua Naina mampu mengambil hati dari para muridnya dengan cara-cara kreatif tanpa sedikitpun menangis atau tersinggung di depan mereka.

Memerankan seorang yang mengidap Tourrete Syndrom tentu bukan hal yang mudah. Jika sebelumnya kita melihat acting Rani di “Kuch Kuch Hota Hai” muncul dengan sangat elegan dan seksi dengan tarian-tariannya. Maka di “Hichki”, Rani mencitrakan dirinya sebagai Naina yang tangguh, percaya diri, dan selalu muncul dengan ide-ide kreatif.

Akting Neeraj Kabhi sebagai Mr. Wadia yang sinis juga tidak kalah membuat haru alur cerita dalam film. Apalagi melihat 14 anak yang bermain dengan berbagai karakter dan keunggulannya masing-masing yang diperankan oleh actor-aktris mudah berbakat seperti Jannat Zubair, Sparsh Khanchandani, Harsh Mayar, Rohit Saraf, dan masih banyak yang lain. Mereka adalah wajah-wajah baru di perfilman Bollywood dan nama-nama mereka belum setenar Varun Dhawan, atau Aditya Roy Kapur. Namun, kemampuan akting mereka bisa dikatakan mumpuni dengan mampu membawa suasana haru dan emosi ke dalam film.

Film yang berdurasi 1 jam 57 menit ini berhasil mengaduk emosi, sebuah kutipan dalam film mengatakan “No bad students, only bad teachers” yang artinya “tidak ada murid yang buruk, yang ada hanya guru yang buruk”.

Kutipan ini menegaskan bahwa, menjadi pengajar adalah sebuah tanggung jawab besar yang tidak bisa dianggap remeh. Menjadi guru yang berjuang bagi para muridnya adalah sebuah ibadah dan panggilan hati. Ketika hati sudah tergerak untuk maju dan mengabdi serta mendidik maka hilanglah segala lelah, keraguan, dan materi.

Menjadi guru yang baik adalah mampu melawan ketakutan terbesarnya dan memunculkan kepercayaan dirinya untuk dibawa maju dan dicontoh oleh para muridnya. Seorang Naina Mathur berhasil membuat murid-muridnya tidak lagi menertawakan dirinya melainkan tertawa bersama dirinya.

Naina juga mengajarkan bahwa, memberikan pembelajaran di sekolah tidak harus secara teoritik. Di beberapa kesempatan, Naina mengajak murid-muridnya belajar di halaman sekolah dengan metode melempar telur, disana ia ingin memberitahukan kepada murid-muridnya bahwa ketika mereka menangkap telur mereka telah menerapkan ilmu dari mata pelajaran matematika. Naina menekankan bahwa sebuah ilmu pengetahuan sejatinya digunakan di kehidupan sehari-hari sementara teori hanya sebagian kecil hal yang harus dipelajari di sekolah.

“Hichki” adalah rekomendasi film yang tepat bagi para calon guru dan juga para pembelajar yang masih beranggapan bahwa dunia pendidikan adalah sesuatu yang harus selalu bersinggungan dengan teori, hafalan, dan rumus.

Banyak orang lupa, bahwa pendidikan dan proses dapat menjadikan kelemahan-kelemahan berubah menjadi kekuatan terbesar manusia. Pendidikan bukan berkutat pada teori dan siapa benar siapa salah, pendidikan adalah bagaimana memaknai setiap proses, mendapatkan ilmu pengetahuan dengan bahagia dan menyenangkan.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan