ONamanya Sulastri.

Kami teman, tapi tidak dekat.

Hanya sering bergabung bersama teman-teman sekelas lainnya saat makan siang di kantin fakultas yang terkenal dengan papan aturan bertuliskan “dilarang merokok” itu.

Tidak pernah mengiyakan, mengamini, bahkan menggubrisnya, dia selalu membicarakan si “ini” lalu si “itu” kemudian “mereka” dan kemungkinan bisa “kalian” ehehehe.

Dia sampai dikenal ratu gibah. Anehnya, meskipun aku tak suka dengan orang itu, aku suka dengan gibahan yang dia bawakan. Gibahannya akan semakin sedap saat ada yang menambahkan bumbu :

“oh, iya ta?”

“masak sih?”

“terus-terus gimana?”

“ih, nggak taunya yaa ternyata gitu”.

Seperti micin yang mengalahkan bumbu dapur racikan ibu. Tiap-tiap hari kupingku ini kusuapi dengan ocehan bermicin.

Kebetulan, Sulastri satu rumah kos denganku. Malam itu, kos yang biasanya hening mendadak heboh oleh kehisterisan ibu kos setelah mengetuk pintu kamar Sulastri untuk menagih uang wifi.

Sulastri ditemukan tewas dengan mulut berbusa. Di atas meja kutemukan botol obat kapsul.

“Anjir! Dia mati gara-gara overdosis gibah!”

Tinggalkan Balasan