Nicho pulang larut malam gara-gara jadi panitia di acara HUT organisasinya. Gerbang kos Nicho sudah dikunci beberapa jam yang lalu. Sebagai teman satu organisasi yang baik, apalagi cukup dekat dengan Nicho, Kevin menawarkan agar Nicho menginap ke kosnya.

Nicho tak ragu untuk menerima tawaran Kevin itu. Sesampainya di kos, Nicho langsung merebahkan dirinya pada dunia bergravitasi tinggi berwujud kasur itu. Dia tidak menyadari bahwa Kevin pergi entah kemana.

Berhubung keesokan harinya Sabtu, Nicho bablas tidur hingga tengah hari. Jika tidak karena berisiknya Kevin saat membuka pintu, mungkin Nicho akan tidur lebih lama. Nicho iseng bertanya pada Kevin yang tengah sibuk memasukkan uang ke celengan babi dan celengan ayam yang ia letakkan di atas lemari.

Iya, sebenarnya saat pertama kali Nicho masuk ke kamar kos Kevin, kedua celengan itu yang pertama kali menarik perhatian Nicho. Bukan karena warnanya yang ngejreeng, tapi lebih mengarah ke takjub. “Gila, ternyata Kevin orangnya suka nabung ya,” batin Nicho sebelum melempar dirinya ke kasur.

“Kenapa dah lu masukin uang ke celengan ayam sama babi? Gue kira yang satunya udah penuh makanya lu punya dua celengan,” kata Nicho.

“Ssstt…sssttt…sstttt….” balas Kevin lengkap dengan jari telunjuk yang lekat dengan bibir.

“Gue kasih tau sama lu, sisa uang saku dari ortu masukin ke celengan ayam. Uang hasil kerja masukin ke celengan babi,” jawab Kevin kemudian.

Dahi Nicho mengerut membentuk tulisan “why” dengan tanda tanya segede gaban.

Because it’s haram,” tambah Kevin dengan nada berbisik.

“Anjay! Temen gue kerjanya nyuri!” batin Nicho.

Tinggalkan Balasan