Beranda KOLOM Dari Apatis yang Berujung Kritis

Dari Apatis yang Berujung Kritis

0
Foto: Richa #CoretanSeorangDemonstran

Tahu sendiri ‘kan jika keadaan Indonesia saat ini sedang ‘panas-panasnya’? Polemik revisi undang-undang yang diajukan oleh DPR menggema dimana-mana.

Mulai dari disahkannya revisi UU KPK hingga RKUHP yang menurut sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum jelas. Belum lagi masalah Papua yang mayoritas masyarakatnya masih mengalami diskriminasi. Selain itu juga masalah Karhutla yang menyesakkan, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah sana. Nggak bisa bayangin gimana tiap harinya harus hidup sama kabut asap yang kedatangannya tidak diharapkan.

Karena masalah itu, mahasiswa akhirnya bangun dari zona nyamannya. Turun ke jalan. Kalau hal itu sih sudah biasa ya. Tapi yang bikin beda adalah kuantitasnya. Demo dilakukan di berbagai daerah, tidak hanya di Jakarta saja. Skalanya sudah besar. Se-urgen itukah masalah-masalah itu?

Meskipun kerjaan saya hanya rebahan, masalah-masalah tersebut bisa membuat saya bangkit dari nyamannya kasur, merasa tidak tenang, cenderung was-was. Jadi punya pikiran bagaimana masa depan Indonesia selanjutnya? Baik-baik sajakah? Tentu tidak saya saja yang cemas. Kamu ataupun mayoritas masyarakat Indonesia merasakan hal yang sama.

Di kota perantauan saya (Malang), juga melakukan aksi 3 hari berturut-turut. Tuntutannya ya seputar masalah yang saya sebutkan di atas. Ajakan untuk melakukan aksi pun bermunculan di sosial media. Apalagi saya seorang anggota dari Lembaga Pers Mahasiswa di kampus, memiliki ‘kewajiban’ untuk meliput kegiatan aksi.

Foto: Richa

Awalnya saya ragu banget, kepikiran orang tua yang pasti tidak memperbolehkan ikut kegiatan semacam itu. Ditambah, di hari itu saya ada mata kuliah Statistika yang waktunya bertepatan dengan aksi. Kalau saya jago di mata kuliah itu ya nggak masalah. Cuma saya bego aja di Statistika wkwkwk. Nah, bingung kan?

Setelah semalam suntuk berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk ikut juga. Jika dipikir-pikir, toh saya juga ingin tahu bagaimana suasana waktu demo sebenarnya. Nggak cuma hanya dari baca berita. Saya juga memutuskan untuk bolos 1 hari tidak masuk kelas. Untuk materi kuliah saya bisa bertanya ke teman sekelas. Sayang banget kan kalau jatah bolos kuliah nggak dipakai? hehehehehe.

Senin, 23 September 2019 saya berangkat bersama rekan-rekan pers. Sesampainya di depan gedung DPRD Malang, saya melihat masih belum ada banyak orang. Namun lama-lama massa bertambah banyak. Lalu saya diajak senior untuk liputan di bagian terdepan (tempat untuk orasi). Saya kaget dong, nggak berani juga. Pikiran saya sudah kemana-mana, takut jika terjadi sesuatu saya tidak bisa langsung lari. Bayangan negatif tentang demo berkeliaran di kepala. Tapi akhirnya saya mau-mau saja, toh ada senior-senior yang melindungi juniornya yang penakut ini.

Baca juga: Catatan untuk Mereka yang Enggan Turut Aksi

Wah, jadi seperti ini ya rasanya ikut demo. Gelora semangatnya benar-benar terasa sekali. Di sana, mereka merasakan emosi yang sama. Saya juga jadi ikut merasakan apa yang lain rasakan. Terharu juga. Perbedaan apapun seolah tidak penting, semua menyatu.

Orasi disampaikan secara bergantian dari beberapa pihak dan disampaikan dengan menggebu-gebu. Selain itu juga ada pembacaan tuntutan, menyanyikan lagu Darah Juang dan nyanyian lainnya yang membakar semangat.

Yang bikin unik dari aksi di Malang ini adalah para pendemo memakai pakaian hitam semua. Kalau saya tanya di koordinator aksi yang bernama Rere, salah satu pentolan Front Rakyat Malang Lawan Oligarki. alasan mengapa dianjurkan menggunakan dresscode hitam karena menghindari adanya sentimen identitas, jadi semua disama ratakan. Massa aksi hitamkan Balai Kota Malang.

Setelah ikutan aksi, saya yang biasanya cuma baca-baca saja untuk sekadar tahu, menjadi lebih mendalami masalah-masalah tersebut. Melihat dari berbagai sudut pandang. Pokoknya, jadi memberikan attention lebih banyak dari biasanya terkait segala permasalahan dalam negeri ini.

Foto: Richa

Oh iya, yang bikin saya senang dari aksi mahasiswa di berbagai daerah itu adalah jadi bikin orang lain lebih peka. Yang biasanya bodo amat jadi mencari tahu. Yang biasanya kepo jadi tambah kepo, “ada apa sih ada apa sih kok ada aksi”. Teman-teman saya yang awalnya tidak tertarik dengan masalah di Indonesia jadi bertanya-tanya dan mencari tahu. Mereka penasaran sekali sampai-sampai menonton acara Mata Najwa dan Indonesia Lawyers Club. Keesokan harinya kelas seketika isinya obrolan tentang debat di kedua acara tersebut. Mereka berbicara pandangan masing-masing tentang masalah di Indonesia. Walaupun beberapa ada yang salah fokus dengan ketampanan dan kecakapan dari mas-mas BEM yang tampil di acara tersebut.

Meskipun hanya sekadar ingin tahu tanpa mendalami, setidaknya hal itu dapat membuka pikiran dan memicu rasa peduli kita. Kita semakin diberi kesadaran bahwa kita tidak bisa berdiam diri lagi. Semakin sadar bahwa diam dan plonga-plongo (tidak berusaha mencari tahu) tidak membuat kita maju. Semakin sadar bahwa harus ada perubahan yang lebih baik untuk diri sendiri menjadi lebih kritis. Dan yang paling penting adalah kita menjadi semakin sadar bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Wah, sebegitu kuatnya ya efek dari aksi mahasiswa.

Hanya saja yang bikin sedih itu saat aksi diwarnai dengan kericuhan. Aparat polisi dengan mahasiswa justru menjadi lawan. Tidak sedikit yang menjadi korban. Sedangkan si pembuat kebijakan? Sehat wal afiat dooong. Polisi dan rakyatnya babak belur. hhmm~

Saya harap, setelah ini Indonesia keadaannya membaik, kebijakan yang dibuat tidak merugikan elemen masyarakat, masalah juga terselesaikan satu per satu. Semoga saja~ Dan juga, semoga saya, kamu, dan kalian menjadi lebih peduli dengan apapun yang menyangkut Indonesia, entah itu rakyat, pemerintahan, sumber daya alam, dan lain-lain. Karena masa depan negara ini ada di tangan kita. Kalau bukan kita, siapa lagi dong?

Hidup Mahasiwa!

#CoretanSeorangDemonstran, Malang 24 September 2019

Kirim coretanmu!

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan