Keberuntungan berpihak kepada saya karena dipertemukan dengan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pendidikan anak jalanan. Beliau bernama Didit HP, atau yang biasa dipanggil Mbah Didit HP.  Beliau merupakan pendiri Sanggar Alang-Alang. Sanggar yang bertempat di Jalan Joyoboyo 24 Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Sanggar ini memiliki murid sejumlah 166 anak yang komposisinya terdiri dari anak-anak SD hingga SMK. 

Mengunjungi Cinta Lama

Ketika saya masuk ke dalam ruangan tersebut, saya melihat ada meja belajar, tempat wudlu, Al-qur’an, lukisan, gendang, gong kecil dan sebagainya. Lukisan tersebut merupakan hasil karya dari anak-anak Sanggar Alang-Alang. Dari tata ruang tersebut memberikan gambaran bahwa banyak kegiatan yang mendukung perkembangan anak-anak didik di Sanggar Alang-Alang.

Muncul pertanyaan dari Mbah Didit, darimana kami tau tentang Sanggar Alang-alang, lantas saya menjawab kalau dulu Mbah Didit pernah diundang di acara Padhang Mbulan, lalu beliau menceritakan tentang pendirian Sanggar Alang-Alang dengan biaya pribadi. Lantas Mbah Didit bersalaman dengan saya, tanda keakraban.

Sanggar Alang-Alang Foto: Fakhri/SIAR

Beliau menanyakan siapa saja yang datang pada masa itu, namun saya menjawab bahwa saya lupa. Hal yang saya ingat hanyalah Mbah Didit tidak bisa hidup tanpa ada istrinya. Dimana ada Mbah Didit di situ ada sang istri. Mbah Didit menjelaskan bahwa dirinya bersama anak dan istrinya bagaikan tripod kamera. Anak dan istrinya dia andaikan sebagai sanggah, sedangkan Mbah Didit sebagai kamera.

Setelah saya menceritakan hal tersebut, saya merasa Mbah Didit menerima kami. Lalu saya mengisi buku tamu. Setelah mengisi buku tamu, saya masih saja terpana dengan anak Mbah Didit yang bernama Rodhiyah. Ketika saya memandangnya ia tersenyum, saya pikir ia sangat ramah dengan orang lain yang bahkan baru kali pertama dilihatnya. Lalu, rekan saya mewawancarai Mbah Didit tentang pendirian Sanggar Alang-Alang.

Sepetik Tentang Sosoknya

Dulu, Mbah Didit menjadi kameramen terbaik di Indonesia, dan meraih 10 terbaik di sekolah tentang komposisi, dan gambar yang bisa bicara. Semua ilmu itu dipelajari mulai di AWS atau Akademi Wartawan Surabaya.  Akhirnya Mbah Didit diberi beasiswa dari TVRI untuk melanjutkan studi di badan penyiaran umum NHK di Osaka, Jepang. Di sana Mbah Didit memiliki banyak kenalan dari negara lain, misalnya India. Orang-orang disana kagum dengan hasil karya Mbah Didit berupa gambar wayang gunungan. Pada karya tersebut terdapat binatang, pohon, dan rumah yang digerakkan. Ketika diputar, terdengar suara gending.  Sehingga Mbah Didit mendapatkan juara 1 karena membuat animasi baru berupa gunungan wayang.

Ketika Mbah Didit pulang ke Indonesia. Beliau diangkat menjadi kepala produksi film dan mendapatkan Honda CB plat merah dan rumah dari TVRI. Cerita itu membuat saya kagum karena kreativitas yang jarang dimiliki orang pada umumnya. Mbah Didit juga mau menunjukkan pada dunia internasional tentang indahnya kearifan lokal dari Indonesia berupa wayang.

Mbah Didit dan sang istri tercinta. Sumber: Facebook Mbah Didit

Mbah Didit menceritakan bahwa beliau prihatin terhadap banyaknya pengangguran akibat dari runtuhnya Orde Baru. Beliau pun mendirikan SMP atau Sekolah Malam Pengamen, pada sekolah itu murid-muridnya diberikan bekal tentang sopan santun. Syarat untuk jadi murid di sana hanyalah sopan santun, apabila seorang murid tidak mandi maka ia tidak diperbolehkan untuk mengikuti kelas. Hingga murid tersebut harus pergi ke ponten untuk mandi dan kembali ke SMP.

Ketika ulang tahun istrinya, beliau memberikan kejutan dengan mengajaknya keliling. Namun sebelumnya, murid-muridnya di suruh mempersiapkan kejutan dengan menyalakan lilin secara serentak ketika Mbah Didit datang. Sehingga berdirilah Sanggar Alang-Alang pada tanggal 16 April 1999. Mbah Didit mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya melalui cerita dan tidak disuruh banyak menulis.

Melebur Bersama Alang-Alang

Tak lama kemudian ada murid dari Mbah Didit berdatangan, saya diberitahu bahwa akan diadakan acara melukis dengan media cobek. Ketika anak-anak bersalaman dengan Mbak Rodhiyah, saya lihat kalau salaman tersebut sangat unik dan cukup panjang. Lalu saya dan teman saya diajari bagaimana salaman ala anak Sanggar Alang-Alang. Salam tersebut terinspirasi dari salaman anak punk pada masa lalu.

Mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) datang, saya merasa terkejut ketika ternyata acara melukis tersebut diadakan oleh mereka. Saya pikir acara tersebut memang rutin diadakan oleh Sanggar Alang-Alang.

Tampak dalam Sanggar. Foto: Fakhri/SIAR

Lalu, Mbah Didit menceritakan tentang guru-guru beliau, antara lain Mbah Djamal dari Tambakberas Jombang, Cak Nun dari Menturo Jombang, dan Mbah Maimoen Zubair dari Rembang. Beliau belajar tasawuf dari Mbah Djamal Tambakberas, ada beberapa pesan yang disampaikan antara lain, harus sabar, bicara seperlunya, dan jika ada makanan dimakan, kalau tidak ada ya hanya diam, nanti akan datang sendiri.

Pesan tersebut selalu dipraktikkan Mbah Didit dalam kesehariannya. Alhasil, banyak makanan yang datang, hingga Mbah Didit tidak sanggup menghabiskannya sendiri. Sehingga membagikannya kepada anak Alang-Alang. Saya pun berusaha mencerna ilmu yang disampaikan oleh Mbah Didit tentang tiga pesan tersebut. Menurut saya, semua memang mungkin bagi Allah Ta’ala, meskipun hal tersebut tidak masuk ke akal manusia. Diperlukan perenungan mendalam untuk bisa dimasukkan ke akal, namun kalau pun tidak bisa, lebih baik tidak dipaksakan. Ilmu Allah yang diberikan kepada manusia hanya setetes, sedangkan ilmu Allah seluas samudera bahkan tidak akan muat jika menanggungnya.  

Lantas dua mahasiswa Unesa tersebut memberikan pengarahan tentang acara melukis kepada anak-anak. Setelah pengarahan, Mbah Didit memimpin doa agar diberikan kelancaran pada saat acara. Kami berkumpul dan melingkar mengelilingi Mbah Didit. Setelah itu kami menuju Taman Ronggolawe, lokasi acara. Di sana saya melihat ada anak Sanggar Alang-Alang bermain di taman tersebut. Saya dan rekan saya mengawasi anak-anak tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika mahasiswa dari Unesa lain mulai berdatangan, saya meninggalkan anak-anak untuk melakukan ibadah.

Melukis cobek bersama teman-teman mahasiswa Unesa. Foto: Fakhri/SIAR

Setelah itu, kami kembali ke anak-anak dan ternyata acara sudah dimulai. Saya melihat anak-anak begitu antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pada saat itu saya tidak melihat Mbah Didit bersama istri dan anaknya, yang saya lihat mendampingi hanya para mahasiswa dan Mbak Nurul. Beberapa saat kemudian, Mbah Didit bersama istri dan anaknya datang ketika saya dan teman saya mewawancarai ketua pelaksana dan ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dari kegiatan tersebut. Dimana karya anak-anak dari Sanggar Alang-Alang nantinya akan dipamerkan di Pameran Sengkuni tanggal 8-10 November di Unesa.

Tak Akan Terlupa

Bagi saya, bertemu dengan orang yang peduli terhadap pendidikan anak jalanan merupakan suatu anugerah dari Allah, karena dapat memberikan pesan moral bagi saya maupun pembaca, bahwa pendidikan bagi anak adalah hal yang sangat penting.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mulai mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Dapat kita lihat disekitar kita, anak-anak jalanan sangat memprihatinkan dalam hal pendidikan. Jadi diperlukan penanganan yang istimewa untuk mereka. Saya mengutip dari pernyataan Cak Nun “Mustahil kita mencintai Sang Pencipta jika kita masih membenci ciptaan-Nya”.

Surat Cinta untuk Mbah Didit

Cintamu sungguh mulia
Engkau beri kasih kepada semua
Tanpa kau pilah siapa dia
Kau manusiakan semuanya

Aku kagum dengan sumbangsihmu
Aku hanyut dalam haru kebahagiaan
Rasa takdzim aku beri padamu
Rasa cinta aku persembahkan

Ruang rindu ada ku dan Tuan
Ku tulis kenangan disehelai kertas
Tentang rindu dan kesan
Berisikan cinta yang terbalas

Semoga sehat Tuan sekeluarga
Sedih Tuan sedihku juga
Bahagia Tuan bahagiaku juga
Cinta Tuan sepanjang masa

Penyunting: Rizka Ayu Kartini

BAGIKAN
Berita sebelumyaDemonstran Jangan Jadi Putch
Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang angkatan 2018.

Tinggalkan Balasan