Jalan panjang telah mewakili kenangan yang sudah melebur sebelumnya, dengan keberanian melawan arus normalitas setelahnya, kita berhasil menjadi orbit yang melewati lintasan meteor dan mencintai segala rintangannya. Katanya, banyak yang berubah setelah kita semua menyepakati janji “untuk bertahan hingga akhir”. Buku-buku bacaan kita semakin menambah, arah pembicaraan kita semakin bermakna. Akan tetapi kita memang tidak dapat membeli kebahagiaan, kita juga tak mampu menghindari permasalahan.

Saat diklat, kita semua ditanyai ingin melakukan apa di Siar. Tujuannya selalu sama, yaitu bisa menulis dan mengembangkan bakatnya masing-masing. Berikutnya kita diberikan pilihan-pilihan “dengan apa kita melakukan itu”. Jawabannya bermacam-macam, ada yang ingin belajar dari kakak pengurus, ada yang mencoba meningkatkan buku bacaan, dan ada yang langsung turun aksi di jalanan.

Sayangnya realita selalu menyebalkan. Hari-hari selanjutnya membakar habis cita-cita, kita sampai pada titik kejenuhan yang luar biasa dan kita semua dipaksa untuk menyukainya.

Foto: Kevin

Di antara beberapa kejenuhan itu, saya melihat teman-teman disibukan tugas kampus, tapi beberapa diantara lainnya rela membaca buku di sekret UKM. Saya jadi sadar, mungkin buku diciptakan bukan sekedar ilmu, tapi untuk jendela mengatasi konflik. Meskipun klise, tapi saya penasaran bukan main. Dalam benak saya, apakah benar jika kita dapat berubah setelah membaca buku? Akhirnya saya sepakat dengan rekan saya untuk mencoba membuat riset data terkait “LPM SIAR UKMP UM Mencari Jawaban atas Bacaan Bukumu”.

Kami dapat 85 responden yang tidak kami ketahui asal-usulnya. Dari hasil responden tersebut, banyak yang membuat terhanyut. Rata-rata pengisi kuisioner terdiri dari 3 genre berbeda, yaitu romance (16,5%), sejarah (20%), thriller (10,6%).

Dari ketiga genre diatas, alasan menjadi buku favorit menambah perspektif baru (49,4%), alur dan plot twist menarik (21,2%), cerita yang tidak terduga (11,8%), mengingatkan pada pengalaman pribadi (4,7%).

Dari alasan buku yang disukai itu, lahir respon setelah membaca buku. Pertama, sampai menangis (11,8%). Kedua sampai ikut merasakan isi dalam buku (47,1%). Ketiga, jadi mudah takut dan parno terhadap aktivitas selanjutnya (2,4%). Keempat, ceria dan bahagia setiap saat (7,1%). Kelima, galau berkepanjangan (5,9%). Keenam, membuat pribadi menjadi semangat dan lebih optimis (22,4%). Ketujuh, sebal karena di luar ekspektasi (2,4%). Kedelapan, termotivasi untuk berubah (21,2%) dan yang terakhir, jadi memiliki pandangan baru terhadap suatu hal (70,6%).

Foto: Kevin

Banyak yang menaruh harapan dalam isi kuisoner yang kami bagikan. “Aku menemukan perspektif baru di dalam buku itu, beberapa hal yang membuat ku mengerti jika kehidupan itu begitu kompleks dan pola perilaku manusia yang beragam. Menjadikanku bersemangat dalam mengejar sesuatu yang unik, beserta melakukan pola kehidupan yang aku lalui. Bahwa banyak hal di luar sana yang masih bisa kita gali dan tidak nampak seperti yang kita lihat bahwa masyarakat tanpa kelas adalah bukan tujuan yang utopis” Kata salah seorang responden tanpa menyebutkan judul buku, mungkin baginya judul buku itu teramat rahasia sehingga ia menitipkan pesan teramat dalam.

Benar saja, pesan dan cita-cita revolusioner itu hadir dari pembaca Karl Marx dan pemikir selanjutnya. Sebuah masyarakat tanpa kelas adalah cita-cita kelas pekerja atau entitas kelas tertindas yang tujuannya hanya ingin setara dari sosial ekonomi dan politik antar sesama manusia, tanpa adanya penindasan. Meski utopis, tapi begitulah imajinasi para pembaca buku yang sulit ternilai harganya.

Foto: Kevin

Ada juga yang menaruh semangat. Bias dari kehidupan yang memang sulit diselesaikan dengan sederhana. Namun lewat pesan sederhana ini, ia menggambarkan kan suatu hal tentang ‘optimisme’ seperti “Hidup harus seperti kendaraan, ada saat kita harus optimis atau mengumbar nafsu positif, namun kita juga harus bisa menahan nafsu negatif yang kita miliki. Kita juga harus membuka pikiran ketika membaca buku baru.”

Yang menarik adalah ketika menjadikan buku sebagai penuntun rasa galau yang berkepanjangan. Seakan jika setelah membaca, kita jadi tau tips dan trik dalam perbucinan duniawi. Biasanya ini kaum patah hati akan sangat suka membaca buku sampai menangis. Entah cerita nya yang menyentuh, atau kisah cinta hidup nya yang terlampau sadis “Tetap berusaha dalam keterbatasan, bersabar dalam pencarian panjang dan yakin bahwa akan ada bertemu dengan yang diinginkan”.

Dan beberapa pesan unik lainnya;

“Jika ingin memperbaiki hidupmu, maka perbaikilah sholatmu”

“Orang tua kita menua pastinya mengalami perubahan baik secara fisiologis maupun psikis. Sebagai anak, seharusnya kita bisa memahami keadaan beliau sehingga lebih bijak dalam bersikap dan berperilaku. Yang awalnya sering marah-marah setelah membaca buku tersebut jadi tahu harus seperti apa, yaitu bersikap lemah lembut. Pun dengan sikap lainnya.”

“Berani menghidupi”

“Kita harus berani mengimajikan dunia yang kita inginkan”

“Kebenaran tidak datang dari langit, dia musti diperjuangkan supaya jadi benar”

“Jangan menyerah, tetap berusaha; Bekerja bukan semata-mata karena uang; Jadi diri sendiri apa adanya; Percaya diri dalam mengambil keputusan; Ketika berada di situasi yang sangat sulit, percayalah pasti ada jalan keluar; Jangan meremehkan orang-orang baru.

pesan tentang kehidupan yang tidak luput dari penderitaan. “

The painter had achieved what we would all like to do: capture time and make it stand still”

“Dirimu saat ini adalah dirimu yang terbaik~~~ ntapss lurrd”

Siapapun yang telah berkontribusi dalam membagikan cita-cita kecilnya, terima kasih. Semoga pesan-pesan barusan dapat membuat kita bersemangat selalu setelah ini. Salam.

Penulis: Ahmad Kevin

Penyunting: Mita Berliana

Tinggalkan Balasan