Serial drama 13 Reasons Why besutan Netflix yang baru saja dirilis pada 31 Maret 2017 lalu, mengantongi skor IMDB hingga 9/10. Drama yang diangkat dari novel berjudul sama karya Jay Asher bahkan akan memasuki musim kedua meskipun sempat menuai kontroversi karena menampilkan gambaran bunuh diri dengan begitu jelas.

Serial tiga belas episode ini mengangkat kisah Hannah Baker, gadis SMA yang memutuskan bunuh diri. Diperankan cukup apik oleh aktris pendatang baru yaitu Katherine Langford. Sesuai dengan judulnya, disini Hannah menceritakan tiga belas alasan dirinya bunuh diri melalui tiga belas rekaman kaset.

Dalam balutan misteri kematian Hannah, drama ini diambil dari sudut pandang Clay Jensen yang diperankan oleh Dylan Minnette. Clay Jensen merupakan teman Hannah yang menjadi salah satu diantara 13 alasan Hannah bunuh diri, yang juga disebutkan dalam rekaman. Secara bergilir rekaman tersebut dikirimkan kepada setiap orang yang dianggap Hannah bertanggung jawab atas kematiannya.

Drama berdurasi satu jam pada tiap episodenya ini akan membawa ingatan kita ke masa-masa sekolah. Terlebih, bagi para pelaku maupun korban bullying, tentu secara personal ulasan dalam drama ini akan menyentuh empati mereka. Tidak dapat dipungkiri hal-hal seperti penyebaran foto pribadi, makian, intimidasi, isolasi, menyingkap rok teman perempuan, melorot celana teman, meremas payudara teman perempuan bahkan pemerkosaan memang benar terjadi dalam lingkungan sekolah.

Perilaku-perilaku tersebut sekaan enteng saja diberikan pada orang lain. Bahkan tidak jarang orang-orang yang mempunyai wewenang, seperti, guru maupun orang tua yang seharusnya ada untuk menolong para korban bullying malah menganggap bahwa hal tersebut lumrah sebagai candaan dan tidak seharusnya dipermasalahkan. Akan tetapi, pernahkah kalian berpikir bahwa apa yang kalian anggap sebagai candaan tersebut dapat menyakiti perasaan orang lain? Bahan candaan yang kalian pikir lucu itu dapat membuat orang lain mengalami trauma? Bahwa tindakan kalian itu bahkan dapat membuat orang lain mengakhiri hidupnya?

Berdasarkan hasil riset Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Plan International dan International Center for Research on Women (IRCW) pada tahun 2015 terkait bullying, 84% anak di Indonesia mengalami bullying di sekolah. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia seperti Vietnam, Kamboja, Nepal, dan Pakistan.

Tingginya angka bullying di Indonesia ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah serta lembaga perlindungan anak seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Hal ini penting karena tidak sedikit dari korban bullying yang memutuskan untuk bunuh diri karena merasa tertekan dan tidak mendapatkan pertolongan.

Selain berdampak pada tindakan mengakhiri hidup, banyak juga korban bullying yang tetap berusaha bertahan dengan sayatan-sayatan di batinnya. Tidak sedikit yang kemudian mengalami trauma, menjadi sosok yang pendiam, pemurung, tidak percaya diri, bahkan ada kecenderungan membenci dirinya sendiri karena menganggap bahwa sumber masalahnya adalah dirinya.

Namun, Mengutip berita di Republika.co.id bahwa bukan hanya korban yang beresiko untuk mengakhiri hidupnya, pelaku bullying juga memiliki kecenderungan yang sama. Pelaku bullying yang suka melakukan perundungan juga mengalami masalah ke depannya seperti dihindari atau dijauhi oleh sekitarnya. Keduanya memiliki masalah yang sama yakni kecemasan dan depresi yang kemudian memengaruhi kondisi psikologis serta emosional mereka.

Padahal, jika kita mengacu pada Pasal 54 UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang berbunyi: “Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan atau pihak lain.” Bukankah sangat jelas bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari tindakan kekerasan baik fisik maupun psikis. Bukankah setiap anak berhak belajar dengan rasa aman tanpa ada ketakutan.

Kisah Hannah dalam serial 13 Reasons Why mungkin dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua. Bullying merupakan hal serius. Bullying merupakan monster bagi anak-anak. Membiarkannya, sama saja dengan membunuh anak-anak secara perlahan. Mematikan imajinasi mereka. Merenggut kehidupan mereka dengan kecemasan-kecemasan di kepalanya. Lebih buruk lagi adalah membuat mereka membenci dirinya sendiri.

Masalah ini tentu menjadi PR kita bersama, bukan hanya untuk para orang tua, lembaga pendidikan maupun lembaga perlindungan anak. Ini tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Tentang bagaimana saling menjaga. Bukan dengan saling menyalahkan maupun menyudutkan berbagai pihak.

Namun, pada penanaman-penanaman nilai-nilai seperti bagaimana melihat atau menghargai orang lain sebagai subjek. Tentang bagaimana belajar berbeda dan cara menghargai itu semua. Dengan demikian, kita bisa melihat, mengenal, dan lebih menghormati orang lain sebagai subjek, tanpa harus mengurangi nilai diri kita sebagai subjek.

Perlu keberanian untuk mengubah perspektif kita dalam memandang orang lain, tapi bukan berarti tidak bisa. Melalui hal-hal kecil inilah kita dapat meminimalisasi perilaku-perilaku yang mengarah pada tindakan bullying. Mari saling menjaga.

1 KOMENTAR

  1. […] Kisah Hannah dalam serial 13 Reasons Why mungkin dapat menjadi bahan renungan untuk kita semua. Bullying merupakan hal serius. Bullying merupakan monster bagi anak-anak. Membiarkannya, sama saja dengan membunuh anak-anak secara perlahan. Mematikan imajinasi mereka. Merenggut kehidupan mereka dengan kecemasan-kecemasan di kepalanya. Lebih buruk lagi adalah membuat mereka membenci dirinya sendiri. […]

Tinggalkan Balasan