Penjajahan, di mana pun itu, selalu meninggalkan luka berumur panjang dan kisah-kisah yang mengharu biru. Setiap langkah yang ditorehkan para pejuang untuk mencapai kemerdekaan menjadi sejarah yang layak dikenang penerusnya. Dari sejarah mereka saat bertempur di medan perang hingga pergulatan asmara yang tak kalah heroiknya.

Aku hanya seekor anjing sialan / Menggongong kepada langit / Menggongong pada bulan / Aku hanya seekor anjing sialan yang tak berharga / Aku hanya seekor anjing sialan / Dari selangkangan bangsawan / Sesuatu yang hangat keluar dariku saat mandi, dan aku tuangkan segelas air panas ke selangkangannya / Anjing sialan / Aku hanya seekor anjing sialan.(Tokyo, 1923)

Berawal dari sebuah puisi yang ditebitkan dalam sebuah pamflet sosialis, Fumiko terkesima dan penasaran kepada si penulis puisi. Akhirnya Fumiko bertemu dengan si Anjing Sialan, Park Yeol, seorang pemberontak Korea yang dianggap paling gila di Jepang kala itu. Fumiko adalah perempuan Jepang, dan Yeol adalah pria Korea yang menjadi pemberontak imperialis Jepang. Pemberontak Korea paling gila di jepang. Dan Fumiko tergila-gila kepada kepada laki-laki ini.

Mereka menikah, kehidupan sehari-hari diisi dengan berbagai usaha untuk melawan imperialisme. Membaca buku, menulis, dan menerjemahkan buku yang dirasa mampu membakar perlawanan rakyat Korea terhadap Jepang. Sampai suatu ketika, terjadi gempa dahsyat di Tokyo, berlanjut dengan kebakaran yang menewaskan lebih 100 ribu jiwa. Pemerintah Jepang melempar isu bahwa orang Korea yang tinggal di Jepang memanfaatkan bencana tadi untuk meracuni sumur dan menanam bom. Isu yang menyebabkan konflik antara penduduk jepang dan korea ini, menjadi awal mula genosida yang menewaskan ribuan rakyat asli Korea yang berada di Tokyo.

Alih-alih bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut. Pemerintah Jepang justru menuduh Park Yeol dan teman-temannya sebagai kelompok penyebab kerusuhan yang merencanakan pemboman di kekaisaran Jepang. Fumiko yang berdarah Jepang, sebenarnya punya kesempatan lebih besar untuk tidak masuk dalam pusaran konflik ini. Tapi dia memaksa ikut dipenjara. Merasakan dinginnya jeruji sel, sama seperti yang dirasakan suaminya.

Yeol tidak bisa menghalangi sang istri yang ternyata lebih “gila” dari suaminya ini. Sebelumnya, Fumiko sudah berjanji kepada Yeol untuk selalu bersama, dan dia meminta agar Yeol tidak akan pernah menghalangi Fumiko untuk ikut berjuang bersamanya.

Park Yeol dan Kaneko Fumiko mungkin pasangan paling romantis nan anarkis selama masa penjajahan Jepang terhadap Korea. Kisah ini diabadikan dalam film Anarchist From Colony (2017).

Pahlawan Indonesia dan Kisah Cintanya

Dalam sejarah perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan, tidak sedikit juga pasangan yang memilih jalan romantis dengan segala risikonya. Tanah rencong bak tanah kuburan yang menyeramkan bagi para penjajah. Perlawanan rakyat Aceh selalu hidup, dan tercatat bahwa Belanda tidak pernah bisa mengibarkan benderanya dengan leluasa di tanah ini. Di balik itu semua, ada kisah cinta dua orang pahlawan yang sangat progressifnya di zamannya.

Cut Nyak Dien, punya alasan lebih dari sekadar rasa sayang terhadap lawan jenis saat memilih untuk menikah dengan Teuku Umar. Sebelumnya, dia menjanda bertahun-tahun dan memilih untuk memimpin sendiri pasukan Aceh dalam perlawanan mengusir Belanda. Sampai akhirnya dia bertemu Teuku Umar yang, begitu mencintai Cut Nyak Dien dan bersedia menjadi panglima perang. Mereka bersama melawan penjajah, hingga Teuku Umar meninggal, dan Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, kembali menjanda sampai akhir hayatnya.

Baik pasangan Yeol dan Fumiko, maupun Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, mereka memilih jalan cinta yang heroik di tengah peperangan, berjuang sampai darah penghabisan. Setiap pasangan memilih jalan romantisnya masing-masing. Lain “para pemberontak ulung”, lain pula sang diplomat ulung. Bung Hatta, selain kisah perjuangannya mencapai panggung proklamasi kemerdekaan, dia juga punya kisah cinta yang tak kalah romantis.

Berjanji untuk tidak menikah sampai Indonesia merdeka. Akhirnya, dia jatuh hati kepada Yuke –panggilan sayang Hatta kepada Rahmi. Kisah “melarat” pasangan ini sudah banyak diceritakan di mana-mana. Sang proklamator yang sampai akhir hayatnya tak mampu membeli sepatu Bally. Begitu pula sang istri, harus bersedih hati karena uang tabungannya tidak cukup untuk membeli mesin jahit akibat pemotongan nilai mata uang pada tahun 1950. Menjadi istri seorang proklamator bisa jadi bukan hal yang menyenangkan dalam bayangan tren berpasangan saat ini: sering jalan di akhir pekan, nonton di bioskop, atau selalu makan siang bersama dengan diselingi berswafoto di setiap momen.

Risiko yang hampir dialami oleh setiap pahlawan kala itu juga salah satunya adalah pengasingan. Kondisi seperti ini tentu membuat sepasang kekasih semakin dipisahkan oleh jarak. Saat putri pertama masih berusia hitungan bulan, Hatta berada dalam pengasingannya di Bangka. Dalam buku Seri Dimata (Pribadi Manusia Hatta) Yuke menceritakan bahwa mereka hanya bisa berhubungan lewat surat menyurat. Dalam suatu penutup salah satu surat pada tanggal 11 Januari 1949, Hatta berpesan kepada istrinya, “Tetap sabar dan gembira, karena jalan sejarah menuju kepada cita-cita kita semuanya.”

Sang istri pun juga pernah mengirim surat balasan kepada Hatta dengan maksud memberi dukungan terhadap perjuangan yang sedang ditempuh suaminya. Pada surat itu Yuke menjiplakkan tangan kiri Meutia, si putri sulung, dan tertulis “tangan Meutia sebelah kiri! MERDEKA AYAH!”.

Kisah Cinta Pahlawan Zaman Now

Beda zaman, beda pahlawan. Beda pahlawan, beda nasib. Guru, adalah pahlawan di setiap zaman. Negara bisa hidup tanpa tentara, tapi tidak bisa hidup tanpa pahlawan yang satu ini. Mayoritas guru mungkin bisa hidup mapan dengan pengecualian bahwa mereka sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Lalu, bagaimana dengan para guru honorer atau mungkin para guru relawan yang ada di pelosok tanah air?

Teman saya dalam status facebook bercerita tentang nasib kedua temannya. Mereka mempunyai profesi yang sama, yaitu sebagai guru. Dan yang perlu digarisbawahi, mereka belum PNS. Teman saya menulis tentang salah seorang temannya yang sebelumnya menjadi marketing rokok –sebuah pekerjaan yang gajinya relatif lebih tinggi dari guru honorer.

“…Ketika masih bekerja di tempat lama ia menjalin asmara selama tiga tahun dengan seorang gadis. Karena ia lulus FKIP sebuah kampus negeri di Semarang, hatinya tergugah untuk berkerja sebagai pendidik. Malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih. Orang tua kekasihnya memintanya menyudahi hubungan. Sang orang tua telah menjodohkan si gadis dengan seorang anak pengusaha kelontong yang mobilnya Honda Jazz RS dan hand phonnya iPhone 7. Bisa ditebak, setelah curhat, kawan saya ini lantas mengajak saya karaukean. Karena dulu kami punya band rock, lagu yang ia pilih juga rock, tapi versi mellownya. Lagu “Forever and One” dari Helloween ia ulang-ulang sampai satu jam dan sampai saya ketiduran.”

Semasa kuliah mereka adalah aktivis dan membela guru honorer pernah jadi salah satu gugatan sewaktu mereka orasi. Apalagi dari jurusan pendidikan, maka jalan mengabdi di dunia pendidikan menjadi pilihannya. Kawan yang satunya lagi tak kalah malang, dua kali gagal menikah. Yang pertama ditolak secara eksplisit oleh ayah si perempuan pujaan hati. Si perempuan pun mengatakan bahwa kalau si guru honorer ini hendak meminangnya, paling tidak dia harus punya Pajero.

Penolakan kedua. Setelah dia menemukan perempuan pelipur lara dan melewati masa taaruf selama setahun lebih, dia menyampaikan niat baiknya kepada kedua orangtua perempuan untuk melamar si pujaan hati ini. Sejak saat itu pula si perempuan susah ditemui. Sampai akhirnya perempuan itu berkata “kamu terlalu baik buat aku.” Ya kata-kata mainstream yang sebenarnya sudah tidak lagi berguna untuk seseorang yang sedang patah hati.

Cerita para pahlawan tanpa tanda jasa, tak kalah heroik dibanding para pahlawan kemerdekaan. Terlebih dalam urusan asmara. Sebagai Yeol, Teuku Umar, ataupun Hatta, teman-teman guru tadi belum bisa menemukan Fumiko, Cut Nyak Dien dan Yuke yang bisa menemani sisa hidup mereka.

Barangkali cinta, memang harus realistis, tidak terjebak dalam angan-angan semu untuk saling bersama dalam keadaan suka dan duka. Kata-kata cinta itu buta atau cinta gila, mungkin juga tak lagi berlaku. Padahal, Perjuangan seorang guru agar masyarakat memperoleh kemerdekaan dalam pendidikan juga tak kalah revolusioner dari merebut kemerdekaan suatu bangsa.

Tinggalkan Balasan