Pemilu Raya (Pemira) 2017 di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, Pemira  FIP dilaksanakan di hari yang berbeda dengan pelaksanaan Pemira universitas. Metode pemungutan suarapun dilukakan melalui surat suara sedangkan Pemira universitas menggunkaan Electronic Voting (E-voting). Namun, kali ini Pemira di FIP dilaksanakan secara serentak dalam satu hari dan meggunakan surat suara bukan menggunakan E-voting. Penggunaan surat suara ditanggapi secara positif oleh mahasiswa disabilitas karena mempermudah proses pencoblosan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) FIP melakukan pendampingan dan pemberian fasilitas bagi mahasiswa berkebutuhan khusus yang akan menggunakan hak pilihnya. “Surat suara dengan braille dibuat dan disiapkan oleh tim khusus dari KPU FIP” tutur Rika Yulia Rahmawati, Panitia Pengawas Pemira FIP. Rika juga menambahkan bahwa ada 11 lembar surat suara dengan braille yang dibuat khusus untuk mahasiswa tunanetra kategori totally blind (buta total) maupun low vision (penurunan penglihatan).

Selain fasilitas untuk tunanetra, pihak KPU FIP juga memilih tempat pelaksanaan Pemira yang datar dan tidak berundak supaya mudah diakses oleh mahasiswa yang menggunakan kursi roda. Begitu juga saat kampanye berlangsung, KPU FIP menerjemahkan orasi para calon kandidat dengan bahasa isyarat sehingga membantu tuna rungu dalam memahami setiap ucapan

Pemira di FIP tahun ini berbeda dengan tahun lalu. “Tahun lalu pendampingan bagi mahasiswa disabiitas dilakukan oleh pihak panitia bagian resepsionis sehingga membuat para mahasiswa disabilitas merasa khawatir dengan adanya kecurangan.  Jadi   pengennya membantu teman sendiri tapi tidak diizinkan” ujar Mayudi Radiansyah, ketua Study Center and Service of Disability (SCSD). Tetapi pada tahun ini pihak KPU FIP telah memberikan izin untuk mahasiswa disabilitas yang didampingi oleh temannya.

Selain itu, tahun lalu, mahasiswa tunanetra tidak dapat menyumbangkan suaranya karena menggunakan sistem E-voting dengan adanya keterbatasan waktu, yaitu 1 menit. Berbeda dengan tahun ini yang seluruhnya menggunakan huruf braille sehingga memudahkan mahasiswa tunanetra dalam menyumbangkan suaranya. (lny/afd)

Tinggalkan Balasan