Kamis (30/11), masyarakat yang tergabung dalam Komite Aksi Kamisan melakukan orasi di depan Kantor wali kota Malang. Aksi ini diikuti oleh puluhan peserta yang tergabung dari berbagai elemen masyarakat.

Meskipun hujan, kegiatan tetap dilaksanakan dari pukul 16.00 hingga pukul 17.00 . Sofyan, salah satu peserta dari Komunitas Kalimetro mengatakan bahwa aksi kamisan harus tetap dilaksanakan, karena merupakan sebuah bagian dari gerakan sosial yang sangat penting untuk dikawal.

Aksi rutinan yang digelar hingga 34 kali di kota Malang, kali ini menyoroti permasalahan kekerasan terhadap perempuan yang kian marak terjadi di Indonesia.  Catatan Tahunan (Catahu) 2017 Komnas Perempuan menunjukkan pada tahun 2016 terdapat hampir 260.000.

“Di dunia ada kekerasan yang berbasis gender yang berakhir dengan kematian 94% nya terjadi pada perempuan dan hanya 6% terjadi kepada laki-laki, dan itu adalah sebagai prestasi yang buruk ketika Indonesia ternyata menjadi negara ke-9, negara yang paling tidak aman bagi perempuan,” ujar Maryam, pegiat Association Fir Women’s right in Development.

Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan momentum peringatan “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan”. Kampanye internasional ini dimulai pada tanggal 25 November hingga 10 Desember serentak di seluruh dunia. Hal ini, dilakukan untuk mengkampanyekan dan menggalang dukungan dari masyarakat luas agar memahami bahwa kekerasan terhadap perempuan harus diminimalisasi atau dihapuskan. Masyarakat secara umum masih menganggap bahwa kekerasan yang dialami perempuan adalah hal yang wajar karena perempuan adalah makhluk yang lemah.

“Kita dituntut meningkatkan intelektualitas kita, tapi kenyataannya dalam gelanggang politik, pendidikan, dan di manapun selalu saja diremehkan dan mendapat perlakuan diskriminatif,” ujar Firyal salah satu orator dalam Aksi Kamisan ini. Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun tanpa disadari perempuan seringkali mendapatkan kekerasan verbal yang merendahkan perempuan.

“Sudah selayaknya dalam statusnya, perempuan harus dihargai dalam kondisi apapun, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi dalam menegakkan keadilan tanpa memandang bulu,” teriak Firyal.

“Dari aksi ini kita bisa menyuarakan bersama tentang kesadaran gender, laki-laki dan perempuan sama-sama harus merumuskan tentang apa itu keadilan bagi laki-laki, dan apa itu keadilan bagi perempuan bukan hanya melihat persoalan gender melalui kacamata laki-laki tanpa melibatkan perempuan saja, ” ujar Maryam. (ug//bia)

Tinggalkan Balasan