Illustrasi: Widhi/Siar

Oleh keindahan yang agung, dengan sukma alam yang tumbuh. Ada gelap yang mematahkan ilalang hidup. Darah dan nyawa tidak lagi jadi penebusan. Sangat membosankan ketika terus saja berkata damai, yang pada kenyataannya kita ditindas habis orang kaya. Hanya orang gila yang mematahkan omonganku 

Suatu sore di Kota Malang, Rizki Arifandi bergegas untuk liburan tahun baru di Bali. Pemuda yang biasa disebut Blek ini punya segudang pemikiran terkait “cinta dan kedamaian dunia” itu menyatakan perang terhadap aparat kepolisian. Hari-harinya di Jakarta menjadi Relawan Medis Jalanan saat Reformasi Dikorupsi digemparkan, membuatnya semakin enggan dalam menceritakan keberlangsungan dunia yang ideal. Hujan menjadi isyarat akan lelahnya.

“Donald Trump buat ulah lagi. Aku ingin dengar pendapatmu sebagai orang yang mencintai dunia ini dengan moral-moral kedamaian”  candaku pada Blek.

“Peta konflik selalu diciptakan berdasarkan kepentingan. Amerika selalu mengusik negara yang punya potensi SDA. Jangan heran ketika mereka menyatakan perang kepada Iran atas terbunuhnya Jenderal Qasem Soleimani yang termasuk orang yang berpengaruh dalam revolusi Iran 1998.”

“Apa nantinya semua bisa dibabat habis oleh negara itu?” tanyaku pada Blek.

“Bisa saja, tapi sepertinya sudah terlambat. Negara kita tak cukup kuat menangkal nuklir yang mungkin nanti nya menghujam Nusantara. Kita kecolongan habis, harus mengamini setiap regulasi-regulasi internasional meski itu merugikan” jawab Blek.

Blek kini mematahkan quotes andalannya dari seorang Mahatma Gandhi. Mantra dahsyat itu di nilai tidak cukup relevan bagi orang yang menunggu keceriaan di penghujung malam. Kata-kata itu berupa “Pengecut tidak akan mampu mengungkapkan cinta. Cinta adalah hak prerogatif bagi orang-orang yang berani.” Pada malam yang biasa saja, kata tersebut jadi bau busuk. Sukar, penuh kegelapan. Mati, dihujam kehampaan tanpa menyentuh imajinasi.

Blek berpindah kamar tanpa mengetuk pintu. Bola matanya berbinar, tanda isi hati yang penuh amarah. Aku sedikit tau kekecewaanya, tapi tidak cukup paham apa yang akan dilakukan nya nanti. Kemudian ia mengajak orang-orang di dalam untuk berdisuksi, yang pada saat itu juga kita sedang rebahan menuju ke alam mimpi.

Dengan mengusap laman berita terkini pada layar Android. Ia bercerita jika tahun 2020 baru sepekan berlangsung. Namun penindasan manusia di negeri ini masih sama. Motifnya beragam, kriminalisasi akan demonstrasi yang asal tangkap. Lutfi, 5 aktivis tahanan politik Papua, 5 korban kematian Reformasi Dikorupsi, dan masih banyak lagi telah menambah daftar catatan terkait Direpresinya Demokrasi. Belum lagi konflik-konflik agraria seperti penggusuran ruang hidup dan eksploitasi lahan rakyat untuk kepentingan negara semakin tak terbendung.

Dampak kebencian Blek semakin terlihat ketika Konsorium Pembaruan Agraria (KPA) menerbitkan rapor merah pada kepolisian terkait penanganan konflik agraria. Sebanyak 279 konflik agraria di seluruh Indonesia berimbas pada dugaan kriminalisasi pada 258 aktivis dan petani sepanjang 2019. Sebanyak 211 orang dianiaya, 24 orang ditembak, 14 orang tewas dalam proses pengawalan dan advokasi kasus agrarian. Sebanyak 37 kepolisian, 15 petugas keamanan perusahaan bersengketa, 6 orang TNI,  dan 6 orang Satpol PP menjadi pelaku intimidatif dari catatan KPA ini.

Blek lalu membuka lagi lembaran berikutnya pada berita yang terbit beberapa saat yang lalu. Ia hanya marah kepada Anies Baswedan sebab Banjir Jabodetabek malah jadi pembuka penindasan pada awal tahun. Orang-orang berstatus kelas sosial menengah kebawah yang paling merasakan kesulitan ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, akibat banjir yang berlangsung di beberapa hari belakangan, merenggut 60 nyawa dan membuat 92.261 mengungsi. Blek kelakaran bukan main, teringat keluarga dirumah dan liburan yang semakin tidak menyenangkan. Beberapakali ia menelpon keluarga dengan jawaban baik-baik saja, tetapi muram wajah tak mampu membohongi, ini persoalan keluarga. Blek harus tenang atau kembali dalam keadaan penuh tangis.

Pada pagi, kita bertatapan dalam bilik kedai penuh mural yang membahayakan penglihatan. Sebelum berangkat ke Puncak Arjuno, kita saling membisu. Wajahnya lesu bagai pakaian lusuh. Liburan dengan memori yang kurang menyenangkan bukan konten yang ia sukai. Mendiamkan sesuatu dari ketidakadilan jadi konflik yang harus ia pecahkan. Kami pun berangkat dalam keceriaan palsu akibat laki-laki kumal itu.

Sesampai pada lereng puncak,tenda-tenda yang kami bangun menjadi titik meditasi pertama nya. Dengan gurauan imajinasi, ia terlelap dalam angin malam yang luar biasa ekstrim. Ia mendaki dengan kekosonganhati tanpa berbicara kepada siapapun. Ana hanya geleng-geleng pada prilaku nya. Saat kayu-kayu terkumpul dan mulai dibakar, Blek menjadi asyik sendiri pada dunia virtualnya. Barangkali itulah ekspresi kekecewaan yang ia luapkan tanpa ampun.

“Aaa~ matilah kau nak. Dunia ini bukan milikmu. Kau harus percaya” nyanyinya keras.

Lagu Syifasavita dinyanyikan kencang olehnya bersama suara yang keluar dari microfon smartphone. Sebuah lagu absurd tidak hentinya ia putar sebagai tanda kehidupan yang semakin muram. Aku hanya bisa tertawa menunggu kata-kata tercela dari mulutnya. Ia semakin tidak sudi melanjutkan hidup.

Buku-buku bacaannya dipatahkan begitu saja dengan sikap itu. Layaknya gas air mata, kesadaran pun membakar habis urat nadinya. Begitu juga dengan cinta yang ia rangkai.

Pemikiran Blek berubah drastis. Kata cinta berubah perlawanan. Ia tak percaya lagi akan cinta. Arogansi positif jadi beban aktivitas. Kehancuran terkumpul di kepalanya. Ia sampai pada titik ketidakpercayaan pada moral baik yang terus didistribusikan, semangat baik, dan semua aktivitas yang pada kenyataannya penuh kekerasan. Ia lelah berbohong pada diri sendiri.

“Bro, aku tidak percaya jika para dewa dulu hanya berdamai di sini. Apakah mereka tidak pernah mencoba bunuh diri? Karena nyata nya tugas sejarah hanya beban yang diciptakan orang tua untuk memprsulit anak muda dalam pencarian kebebasan dan kedamaian. Mengapa kita selalu mengulang narasi hidup yang sama?” kata Blek kepada orang yang berjaga di depan tenda.

“Semua telah berubah. Bumi diisi oleh orang-orang yang tak mampu berdamai pada diri sendiri. Mengapa kita memperdebatkan perang yang tidak ada ujungnya? Sementara kita lupa jika kita punya nasib tragis tentang ‘besok mau makan apa’. Berdamailah, jangan mati sia-sia” jawab Ana.

Saat pulang ke kota, Blek akhirnya pergi ke Masjid. Melafalkan ayat-ayat surga dan merencanakan kematian dalam keadaan bahagia.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan