Pagi ini, ia selonjoran sambil menonton berita artis di televisi. Seorang artis sedang memberi saran kepada pemirsa tentang hal-hal apa saja yang bisa dilakukan selama berdiam diri di rumah akibat wabah: mewarnai kuku, memasak, dan merekam video. Boleh juga, pikirnya. Ia memang bosan akhir-akhir ini. Bersenang-senang sedikit tentu tidak masalah. Tak lama kemudian ia mengernyit. Ia baru ingat tak punya cat kuku. Bahan masakan di rumahnya hampir habis, dan tak ada perangkat canggih untuk merekam video. Ponselnya yang pernah jatuh ke air itu sudah sekarat. Gara-gara ponsel butut itu, ia sering ketinggalan berita soal pembagian sembako gratis di Kantor Camat. Orang-orang mendapatkan informasi dari grup chat, sedangkan dirinya menunggu tetangga yang berbaik hati mengabarkan. Syukur-syukur diantarkan, mengingat jarak dari rumahnya ke Kantor Camat lumayan jauh jika ditempuh berjalan kaki.

Sebetulnya ia tak masalah berjalan kaki. Toh dulu sebelum wabah menyerang kota ini, ia sering berjalan kaki mencari pekerjaan apa saja yang bisa ia lakoni: Buruh pabrik harian, kuli bangunan, jasa merapikan taman rumah orang kaya, jasa bersih-bersih, kadang juga menjadi boneka maskot restoran cepat saji. Setiap sore, ia akan pulang ke rumah membawa bahan makanan dan sedikit uang. Ia tak pernah membeli daging karena ibunya yang sudah tua tidak bisa makan daging alot. Ah, itu hanya alasan. Tak pernah ada cukup uang untuk daging, kecuali ikan asin.

Ketika wabah pertama kali menyerang kota ini, ia tak mengira bahwa keadaan akan menjadi sedemikian rumit. Toko-toko tutup, tempat ibadah kosong, jalanan sepi, orang-orang kaya bekerja dari rumah. Ya, hanya orang-orang kaya. Baginya, gagasan bekerja dari rumah itu sungguh utopis. Tapi kini, mau tak mau ia melakukan hal serupa; diam di rumah. Bedanya, tak ada pekerjaan.

Ia tak tahu harus bersyukur atau tidak, yang jelas semenjak wabah ini datang, ia menjadi lebih religius daripada biasanya. Pagi hari, ia akan berdoa. Makan seadanya, merawat ibunya, leyeh-leyeh sebentar, berdoa lagi, membersihkan rumah, berdoa lagi, merawat ibunya, berdoa lagi, membaca kitab suci, berdoa lagi, lalu tidur. Rutinitas yang sakral itu terus berulang selama beberapa pekan terakhir, hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan: Tuhan tak ada di balik sajadah maupun di pelupuk mata ibunya yang basah. Kealimannya yang semakin bertambah tak sejalan dengan isi dapur. Beras makin tandas; dirinya makin tidak waras.

Ia berniat untuk keluar rumah lagi, bekerja sebagaimana biasanya. Ketika ia ceritakan niat itu pada salah satu tetangganya yang baik hati, tetangganya itu langsung melotot, “Bangsat, kau pengin mati, hah?”

Tak puas dengan respon tetangganya, ia menceritakan kondisinya kepada ahli agama di desa itu, bapak tua yang memiliki wajah teduh dan tindak tanduk halus. Bapak itu turut prihatin dan mengingatkannya untuk selalu sabar dan berdoa.

“Lalu saya harus gimana, Pak?” tanyanya tak sabar.

“Penyakit itu Tuhan yang bikin. Ngapain takut sama penyakit, takut itu sama Tuhan.”

“Tapi, saya juga takut mati, Pak,”

“Kalau pun mati, kamu akan mati baik.”

“Mati baik gimana maksudnya, Pak?”

Wis to, pokoknya berdoa sama Tuhan,”

Berdoa kepada Tuhan, memang itu yang sudah ia lakukan sejauh ini dan tak ada hal baik yang terjadi kecuali hafalan doa-doanya makin lancar. Ia berharap bisa jadi penceramah karena itu, atau paling tidak diundang ke rumah-rumah warga untuk memimpin doa, kemudian mendapat uang.

Sesudah itu, ia benar-benar memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi. Mengabaikan himbauan pemerintah, bisik-bisik tetangga, dan kekhawatiran ibunya. Tapi ternyata tak mudah bekerja di masa wabah. Pabrik tak butuh pekerja baru, proyek bangunan tak butuh kuli, rumah orang kaya tak menerima tamu. Ia menyesali dirinya yang tak punya ijazah sekolah. Padahal selembar kertas itu akan mendatangkan lebih banyak pilihan dan harapan. Tapi sial, untuk memilikinya butuh kepintaran, atau setidaknya uang. Ia tak punya keduanya.

Berdamai dengan nasib sendiri, mungkin itu yang bisa—dan terpaksa—ia lakukan saat ini. Tidak punya cat kuku dan ponsel canggih memang tidak akan membuatnya mati. Tapi beda urusan kalau soal makanan. Ia dan ibunya harus makan. Mati karena wabah sama menakutkannya dengan mati kelaparan. Ia matikan televisi itu meski berita artis belum selesai. Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia akan keluar dan mencari pekerjaan.


Penulis: Avif Nur Aida Aulia—Mahasiswa Fakultas Sastra 2019

Ilustrator: Kim Megumi

Tinggalkan Balasan