Bagaimana bila kita dihadapkan dengan kondisi yang membawa kita pada takdir untuk memiliki pasangan yang berbeda keyakinan? Apalagi di tengah masyarakat jamak yang memiliki dogma bahwa pernikahan beda agama adalah suatu hal yang tabu. Belum lagi, problematika yang harus dihadapi dalam memberikan pengenalan dan pemahaman agama bagi anak yang memiliki orang tua dengan dualisme yang tentunya membutuhkan perhatian dan usaha ekstra.

Kurang lebih, demikianlah kondisi yang harus dihadapi oleh Herman Sutanto, pria berusia 35 tahun yang saya temui di Vihara Samaggi Viriya dalam sebuah perjumpaan singkat di 30 Juni 2019. Sebuah kesempatan luar biasa bagi saya yang masih sangat baru dalam mengenal teologi dan keseharian dari umat agama lain, terkhusus penganut agama Buddha.

Mengutip dari pernyataan Herman, “Saya boleh memiliki keyakinan yang berbeda dengan istri saya, tapi tidak lantas hal tersebut membuat saya atau istri harus memaksakan salah satu agama pada anak.”

Sedikit banyak, kalimat tersebut memantik benak saya untuk membayangkan seberapa besar usaha yang harus dilakukan oleh Herman dan istri demi menanamkan pemahaman spiritual yang tidak salah kaprah bagi kedua putri mereka, Stacelyn dan Stacy.

Dari secuplik kisah Herman yang sedemikian rupa, sampailah saya pada sebuah pertanyaan. Lantas, bagaimana cara yang ideal untuk mengenalkan agama pada anak? Hal tersebut agaknya sedikit bisa saya jawab setelah saya bertemu dan melihat langsung proses pembelajaran agama yang dilakukan di Yayasan Samaggi Viriya dalam Sekolah Minggu yang dilakukan penganut agama Buddha di vihara tersebut.

Sekolah Minggu Versi Samaggi Viriya

Hal yang saya rasakan ketika menyaksikan prosesi ibadah yang dilakukan oleh anak-anak penganut agama Buddha di Vihara Samaggi Viriya: haru.

Mungkin memang terkesan terlalu emosional, tapi menyaksikan anak-anak -dengan segala tingkah mereka yang lugu, berlarian dan bermain ke sana ke mari, lalu kemudian duduk dengan patuh demi mendengar panggilan guru- menunjukkan itikad untuk belajar melakukan peribadatan, saya tidak bisa untuk tidak luput dari nuansa haru yang seakan menyentil nurani. Prosesi yang dilakukan di Sekolah Minggu, sebutan untuk pembelajaran Buddhisme yang dilakukan di vihara, sebenarnya sederhana saja. Kegiatan yang dilakukan mencakup tiga, yakni Puja Bakti atau berdoa, Meditasi yang disambung dengan kegiatan Berdana atau beramal, dan aktivitas belajar, dengan mengacu pada prosesi ibadah umat Buddha secara umum.

Sedikit informasi, pada hari Minggu, ketika berlangsung peribadatan, akan dibagi tiga lokasi untuk umat Buddha di Vihara Samaggi Viriya. Ibadah untuk anak dilakukan di aula terbuka yang terletak di tengah, ibadah untuk remaja dilakukan di bagian paling belakang vihara, dan ibadah untuk umum dilakukan di Dhamassala, yakni ruang ibadah yang terletak di lantai 2 bangunan utama vihara di bagian depan. Narti, salah satu guru di Sekolah Minggu, menyatakan, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan jenjang yang dimiliki, sehingga anak dan remaja akan lebih fokus dalam prosesnya belajar beribadah, serta ibadah para orang tua tidak terganggu. Sebuah metode yang kiranya cukup efektif untuk dilakukan.

Kembali pada prosesi ibadah yang dilakukan di jenjang anak-anak. Saya mengamati bagaimana anak-anak yang semula asyik bercerita bersama teman, ketika guru meminta mereka untuk duduk, mereka akan patuh dan mulai memilih bantal duduk masing-masing lalu membuka Paritta (kitab yang berisi khotbah Sang Buddha) khusus anak yang telah disediakan. Lalu kemudian dua orang anak, diminta untuk memimpin pembacaan Paritta dan menghidupkan dupa. Metta Wijayanti, salah satu guru Sekolah Minggu, kemudian memanggil Stacy dan Stacelyn untuk mendapat giliran memimpin pembacaan Paritta. Setelah menghidupkan dupa, dimulailah Puja Bakti atau sesi berdoa. Stacy dan Stacelyn dengan lantang membacakan Paritta lalu diikuti oleh teman-teman mereka. Beberapa orang tua dan guru turut mendampingi dengan duduk di samping atau belakang barisan anak, sambil sesekali memberikan pengarahan.

Kegiatan berlanjut dengan meditasi. Pada sesi meditasi, pengarahan dilakukan langsung oleh guru, yakni Metta. Sembari memberikan penjelasan untuk hal-hal yang perlu dilakukan, seperti posisi duduk, memejamkan mata, Metta juga menyelipkan pesan tambahan, “Sambil memejamkan mata, sampaikan dalam hati, semoga semua makhluk hidup berbahagia.” Mengingat ini sebagai proses latihan, Metta pun tidak lupa menyampaikan pada anak-anak aturan yang perlu dilakukan ketika meditasi, seperti tidak menggaruk wajah, tidak menguap, tidak menggelengkan kepala, dan semacamnya. Lucu, karena meditasi memerlukan ketenangan dan bagi anak-anak untuk bertahan di posisinya tentu sangat sulit dilakukan. Beberapa anak terlihat berusaha melirik ke teman-temannya, menahan diri untuk menguap, menggaruk wajah diam-diam, dan semacamnya. Tingkah yang lugu sekali.

Dilanjutkan dengan Berdana atau kegiatan beramal. Anak-anak akan bergiliran memasukkan uang yang mereka bawa pada sebuah tas yang telah disediakan. Kemudian, mereka akan masuk pada aktivitas belajar yang dibagi dalam 4 kelompok. Untuk kelompok taman kanak-kanak atau play group, mereka diajarkan dengan dasar-dasar kebaikan. Kelompok sekolah dasar (SD) kelas 1-2 diajari dengan pembiasaan kebaikan di rumah. Lalu untuk kelompok SD kelas 3-4 serta 5-6 dan SMP akan masuk dalam materi yang lebih kompleks, yakni dengan kisah-kisah Sang Buddha atau kisah tentang teladan untuk berbuat baik.

Metode yang digunakan guru sederhana. Ada guru yang menggunakan metode cerita. Ada yang menggunakan reward seperti memberikan stiker pada anak yang digunakan sebagai pancingan agar anak mau mencoba terbuka tentang kegiatannya di rumah. Ada juga yang menggunakan jurnal kebaikan yang kemudian diisi oleh anak. Serasa angin segar, metode sederhana tersebut membawa saya pada perspektif bahwa tidak perlu mengerahkan berbagai praktik yang sulit dalam mengenalkan ajaran kebaikan untuk anak-anak.

Pengenalan Kebaikan dengan Pembiasaan

Berbagai prosesi yang dipraktikkan dalam prosesi Sekolah Minggu itu, dilakukan bukan tanpa alasan. Menurut keterangan Narti, tentang adanya pembagian jenjang misal. Hal ini dilakukan untuk memudahkan anak dalam menerima ajaran yang disampaikan sesuai dengan jenjang penerimaan mereka, karena tentunya perbedaan jenjang juga mempengaruhi cara anak untuk menangkap hal yang disampaikan.

Metta menambahkan, meskipun ada kurikulum yang dibuat dengan mengacu pada kurikulum pelajaran agama Buddha yang dibuat di tiap daerah, dalam proses pembelajaran di Sekolah Minggu Vihara Samaggi Viriya, kegiatan dilakukan dengan lebih fleksibel. Ketika misal, anak-anak terlihat suntuk atau kurang bersemangat dalam belajar, aktivitas belajar bisa jadi dialihkan menjadi aktivitas bermain. “Ajaran Buddha adalah ajaran yang tidak memaksa. Kami juga menerapkan itu ketika melakukan pembelajaran. Toh meski dialihkan ke permainan misal, kita juga tetap bisa menerapkan ajaran kebaikan di dalamnya.”

Baik Metta maupun Narti menyepakati bahwa yang terpenting untuk dilakukan pada anak adalah pembiasaan. Ajaran Buddha, yang berfokus tentang kasih sayang dan kebaikan pada semesta, dirasa bisa diterapkan dalam bentuk dan cara apapun tanpa perlu mentendensi anak. Yang dirasa penting untuk dilakukan adalah bagaimana menerapkan pembiasaan tersebut dalam keseharian. Narti menyatakan, sedini mungkin, anak sudah perlu dikenalkan dengan ajaran kebaikan yang dianut oleh Buddha. Misalnya ketika bermain, anak diminta dengan kata-kata yang halus untuk tidak saling menyakiti dan selalu berbagi bersama teman. “Kami selalu berpendapat, bahwa setiap kebaikan, sekecil apapun, bisa ditanamkan dengan banyak cara,” tuturnya. Metta juga menambahkan bahwa yang terpenting adalah membiasakan anak pada ajaran sehingga tumbuh keyakinan pada dirinya. Keyakinanlah yang nantinya menuntun anak pada pemahaman.

Saya ingat sekali bahwa pernah mengulik hal ini dalam salah satu materi perkuliahan. Konsepsi yang demikian dalam pengenalan agama di usia anak, sangat sesuai dengan teori perkembangan yang diutarakan oleh Hurlock. Menurut Hurlock, memang sangat dianjurkan untuk memupuk karakter anak sejak dini, karena usi anak, utamanya pada masa 0-6 tahun, akan mengalami masa pertumbuhan yang sangat pesat dan apa saja yang didapatkan anak pada masa ini akan membekas seumur hidupnya. Maka pada usia tersebut, baik halnya untuk mulai memperkenalkan agama.

Saya pun merefleksikan hal tersebut pada kisah Herman. Ketika melakukan sesi wawancara, jujur saja saya sedikit terkejut dengan fakta bahwa Herman adalah seorang Katolik, karena selama saya mengamati anak-anak ketika melakukan ibadah, Herman turut mengikuti semua sesi yang dilakukan. Ketika ditanya alasan mengapa ia turut mengikuti ibadah anak di sekolah minggu, “Ini bentuk penghormatan saya. Saya memiliki keyakinan, istri saya memiliki keyakinan. Tapi tentu untuk saling mengajarkan pada anak, tidak bisa dilakukan sendirian.” Cara ini Herman lakukan, agar ketika melakukan ibadah di rumah, ia bisa turut mendampingi putri mereka. Herman juga menyepakati bahwa ia membiasakan anak-anak untuk mengenal ajaran kebaikan mereka sejak dini. Pembiasaan ini dimulai dari hal kecil, seperti bersyukur ketika bangun tidur, mengucap tolong ketika butuh bantuan, dan sebagainya.

Sebagai orang tua yang dualisme, Herman dan istri menyepakati untuk tidak memaksakan agama pada kedua putri mereka. Ia menyatakan, untuk saat ini, Stacy dan Stacelyn diperkenalkan pada ajaran Buddha terlebih dahulu, lalu diperkenalkan pada Katolik. Hal ini diharapkan, dengan cara demikian, ketika sudah dewasa, putri mereka dapat memilih agama yang ideal bagi mereka. Herman pun tidak menutup kemungkinan bahwa putri mereka bisa memilih agama yang lain ketika mereka sudah mampu menentukan jalan hidup masing-masing. Sebuah kehebatan bagaimana orang tua tidak harus memaksakan agama tertentu pada putri mereka, mengingat kita hidup di zaman di mana masyarakat memiliki tendensi untuk memaksakan segala sesuatu bahkan kepada orang yang tidak ia kenal.

Akhir kata, sedikit sulit memang untuk mengkategorikan bagaimana pola pengajaran yang ideal bagi anak. Apalagi bila berkaitan dengan pendidikan agama. Namun sedikit banyak, kisah Herman Susanto dan prosesi pembelajaran sederhana yang dilakukan di Sekolah Minggu Yayasan Vihara, memunculkan pemahaman baru bagi saya tentang konsepsi ideal untuk memberikan pengenalan agama pada anak sejak dini. Bagaimana seharusnya kita sebagai sesama umat beragama membangun kesamaan dalam pola kita mengenalkan agama, tanpa tendensi untuk memaksa.

Mendidik dengan kebaikan.

Menanamkan dengan pembiasaan.

Memahamkan tanpa memestikan.

Penyunting: Mita Berliana

BAGIKAN
Berita sebelumyaRambut
Berita berikutnyaDalam Bayang-bayang Kelambu
Mahasiswi Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang Angkatan 2016

1 KOMENTAR

  1. Mereka menjadikan agama satu tingkat di bawah cinta, sesuatu yang seharusnya dilakukan sejak manusia diciptakan, saat agama masih belum bervariasi seperti saat ini.

Tinggalkan Balasan