Minggu (17/5) media sosial Twitter diramaikan oleh #HariBukuNasional. Tak hanya itu, warganet juga turut ramaikan ajakan menulis, membaca buku, memberhentikan pembajakan buku, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2002, Menteri Pendidikan kala itu, Abdul Malik Fadjar mencetuskan Peringatan Hari Buku Nasional (Harbuknas). Penetapan Harbuknas ditetapkan sebagai momentum hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980 dengan harapan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia. Sebab berdasarkan hasil survei penelitian UNESCO pada tahun 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat di Indonesia hanya sebesar 0,001 persen yang bisa dianalogikan dari 1000 penduduk, hanya ada satu orang saja yang memiliki keinginan untuk membaca buku.

Per tahun 2019, dalam Indeks Aktivitas Literasi 34 Provinsi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indeks Alibaca Provinsi menunjukkan Provinsi Jawa Timur memiliki indeks aktivitas literasi yang rendah yakni 33,19.

Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur juga termasuk minim minat baca masyarakatnya. Menurut data statistik tahun 2018, 80 persen masyarakat telah bisa baca tulis namun hal tersebut tak lantas membuat literasi meningkat. Bupati Tuban telah melakukan upaya yakni dengan melaksanakan program Gerakan Literasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat sejak 2018. Selain itu, tercatat setidaknya ada empat organisasi yang bergerak dibidang literasi jalanan.

Masih tentang Harbuknas, Rifki, salah satu perwakilan dari Aliansi Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Tuban memilih untuk tidak merayakan Harbuknas, “Hari ini tidak perlu merayakan hari buku. Karena setiap hari adalah hari buku. apa yang perlu dirayakan untuk hari buku nasional jika buku-buku banyak yang disita? Seakan-akan buku itu membahayakan,” ungkapnya.

Rifki menyatakan bahwa dirinya terkadang heran, sebab masih saja ada yang melakukan tindakan kekerasan terhadap buku; penyitaan buku-buku. Ia beranggapan bahwa menurut mereka(pihak yang melakukan penyitaan) buku membahayakan, “Andai buku itu berbahaya, apakah mereka sendiri sudah pernah membacanya?”

Sejenak Rifki mengingat kembali peristiwa 13 April 2020 yang mana Polres Metro Tangerang menyita buku “Masa Aksi” karya Tan Malaka dan “Corat-coret di Toilet” karya Eka Kurniawan dari empat anggota kelompok dalam tanda kutip Anarko di Tangerang. Buku tersebut dijadikan barang bukti terkait kasus vandalisme beberapa waktu lalu. “Dan ketika buku-buku semacam buku sejarah atau seperti kasus di Tangerang kemarin, melihat buku dari covernya saja, lalu ada gambar molotov dan kemudian dijadikan barang bukti, kan lucu gitu,” tambahnya.

Rifki juga menambahkan bahwa kebebasan untuk membaca masih belum ada, kemudian di mana slogan “untuk mencerdaskan bangsa” menjadi pertanyaan besar. Bagi Rifki perpusjal adalah alternatif untuk siapapun yang ingin membaca buku gratis tanpa harus membeli.

Sama halnya dengan Tuban, masyarakat Kota Malang juga memiliki minat baca rendah, hal ini didukung oleh Sutiaji selaku Wali Kota Malang yang mengatakan, minat baca warga di Kota Malang masih rencah. Sehingga, Pemerintah Kota Malang melucurkan perpustakaan digital Malang Cilin Digital Access, yang juga untuk memperingati Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember 2019.

Einid Shandy, Founder Komunitas dan Bimbel @duniabelajarmalang berbagi pendapatnya mengenai Harbuknas. Einid senang generasi saat ini sadar dengan Hari Buku Nasional bahwa literasi itu perlu. “Secara pribadi menurutku ada kaitan antara Harbuknas dengan peristiwa razia dan penyitaan buku yang dilakukan oleh polisi seperti yang terjadi di Tangerang, ini nunjukin banget kalau Indonesia masih minim literasi. Padahal buku itu niatnya untuk memperluas dunia kita kan? Apalagi buku-buku itu udah beredar legal, masa masih disalahkan?” tambahnya.

Tergabung dalam perpusjal Malang, Aralogic, menampik Peringatan Hari Buku Nasional sebab kekesalannya pada maraknya peristiwa penyitaan buku. Aralogic heran dengan adanya razia, pengusiran yang dilakukan oleh pihak tertentu, ditambah pemberitaan buku Tere Liye “Negeri Para Bedebah” yang dijadikan barang bukti dalam konferensi pers. Menurut Aralogic, perpusjal adalah kanal para pemuda “sok keren” yang eksistensinya harus dipertahankan, “kelompok mana lagi yang mau pergi bawa tas besar penuh buku ke taman-taman, ke alun-alun, ke sudut-sudut kota hanya demi agar mempermudah setiap (orang) yang lewat untuk mampir dan membaca gratis? Kanal yang bagi saya sangat akar rumput, mampu menyasar anak-anak, para pemuda-pemudi, remaja, tukang ojek, tukang becak, asal jangan tukang razia saja hahaha.” ujarnya.

Sebagai mahasiswa yang suka membaca buku Wagis Nur Mulyawati mahasiswa Pendidikan Luar Biasa 2018 berujar bahwa untuk membaca buku tidak harus menunggu hari buku, namun peringatan Harbuk dapat dijadikan untuk menyulut api semangat orang-orang yang masih awam dengan budaya membaca. Selain itu, Wagis mengakui baru mengetahui adanya razia yang terjadi perpustakaan jalanan, meskipun begitu Wagis menyayangkan tindakan tersebut. “Pas kemarin ketemu sama gerakan literasi masih banyak kok di Malang memberikan tempat bagi perpusjal, kebanyakan di taman-taman tapi sayangnya malah nggak ada yang tertarik buat baca. Dan balik lagi ya gitu minat baca orang Indonesia itu minim banget dah.” (mta/wid//dza)

Tinggalkan Balasan