Globalisasi membawa efek yang menguntungkan sekaligus merugikan bagi masyarakat negara berkembang seperti Indonesia. Informasi akan dengan mudah diakses, menyebabkan gaya hidup dari negara-negara maju juga dengan mudah diketahui dan diikuti oleh masyarakat negara berkembang. Dengan pendapatan yang relatif rendah, masyarakat negara berkembang tergiur untuk menjalani gaya hidup berbiaya mahal layaknya masyarakat negara maju. Hal ini tentu sangat berbahaya sebab kontraproduktif bagi usaha pembangunan negara berkembang. Dana yang seharusnya dapat dialokasikan untuk menyokong pembangunan, justru dihamburkan untuk memenuhi gaya hidup konsumtif. Di era Revolusi Industri 4.0 ini, teknologi juga menjadi faktor dominan yang menunjang tingginya budaya konsumerisme. Konsumsi, kemudian, menjadi bagian dari upaya meneguhkan dominasi kelas masyarakat dan afiliasi kelompok.

Pada ranah mikro, pengaruh konsumerisme juga terasa. Di desa tempat tinggal saya, tetangga-tetangga saya yang sebenarnya tidak terlalu terkekang karena isolasi akibat pandemi Covid-19, mendadak terjebak pada demam bersepeda. Sebagaimana diketahui, awalnya bersepeda tiba-tiba menggejala pada masyarakat urban yang setelah sekian waktu kesulitan berinteraksi di tengah pandemi. Masyarakat kemudian ramai-ramai membeli sepeda baru mengikuti arus gaya hidup sehat yang cukup beresiko di tengah pandemi. Sepeda dan aktivitas bersepeda kemudian menjadi gaya hidup masyarakat yang berupaya menunjukkan identitas sebagai kelas menengah, padahal biaya-biaya tersebut dapat digunakan sebagai cadangan menghadapi kondisi ekonomi yang tidak pasti akibat pandemi. Trending konsumtif, seperti bersepeda pada kondisi yang disebutkan di atas, sering hanya bertahan beberapa waktu saja. Akhirnya, sepeda menjadi barang yang tak berguna setelah trend menurun atau bahkan berhenti.

Menarik kemudian menyimak pidato pengukuhan Prof. Dr. Sri Umi Mintarti Widjaja, S.E., M.P., Ak. (pada tulisan ini disingkat Prof. Mintarti) sebagai guru besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, pada tanggal 14 April 2016 dengan judul “Model Pendidikan Ekonomi Anak Usia Dini Untuk Membendung Sikap Kosumerisme pada Usia Dewasa”. Dalam pidato tersebut, ditawarkan sebuah model pendidikan ekonomi sebagai salah satu pilar yang dapat membendung pengaruh negatif globalisasi yang melanda masyarakat Indonesia saat ini.

Dalam kajian antropologi, proses sosialisasi menjadi salah satu proses belajar kebudayaan sendiri. Proses sosialisasi diartikan sebagai proses sosial dimana seorang individu menerima pengaruh, peranan, ataupun tindakan orang-orang di sekitarnya (millieu). Seseorang akan dipengaruhi oleh individu-individu yang menempati berbagai status dan kedudukan dalam masyarakat yang dijumpainya sejak dia dilahirkan. Dalam sebuah riset yang dilakukan Prof. Mintarti terkait pola konsumsi anak-anak SD, proses sosialisasi dipengaruhi oleh keluarga, diikuti oleh teman sebaya, media massa, dan terakhir oleh lembaga pendidikan.

Keluarga merupakan contoh terdekat bagi anak, dimana ia akan selalu melihat perilaku keluarganya, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. Dalam berinteraksi, anak juga akan meniru yang dilakukan oleh teman sebayanya. Media massa melalui iklan yang ditampilkan, menarik minat anak untuk mengonsumsi suatu produk. Intensitas anak yang tinggi dengan lembaga pendidikan juga memberi pengaruh pada pola konsumsi anak. Pendidikan ekonomi kemudian menjadi penting, terutama semenjak seseorang masih berusia dini.

Pada lingkungan keluarga, pendidikan ekonomi terhadap anak dapat disosialisasikan melalui cerita daerah. Cerita sebelum tidur efektif menanamkan pengetahuan pada anak untuk membentuk sikap ekonomi yang rasional. Saat anak berinteraksi dengan media massa, orang tua dapat mendampingi anak agar tidak terpengaruh oleh konsumerisme yang ditawarkan iklan. Dengan permainan simulasi, guru dapat memberikan pembelajaran tentang pendidikan ekonomi terhadap murid-muridnya. Integrasi pendidikan ekonomi ke dalam kurikulum pendidikan juga efektif bagi pendidikan ekonomi siswa. Pendidikan ekonomi pada anak usia dini, terbukti bermanfaat membentuk pribadi yang lebih bertanggungjawab dan terampil dalam pengelolaan ekonomi di masa depan.

Dari hasil penelitian Prof. Mintarti pada ibu-ibu PKK di wilayah kota Malang, umumnya model pembelajaran dilakukan dengan pembelajaran langsung (direct learning) yang dapat dilakukan melalui pembelajaran dan pemberian contoh secara langsung. Model pembelajaran inilah yang dapat digunakan untuk meredam pengaruh konsumerisme pada anak usia dini. Pembelajaran dilakukan dengan cara: (1) mengenalkan uang pada anak sedini mungkin, (2) meminta anak membuat rencana kebutuhan, (3) menanamkan disiplin kepada anak, (4) memberikan kepercayaan kepada anak, dan (5) menyuruh anak menabung. Sedangkan pemberian contoh secara langsung dilakukan dengan cara: (1) membuat rencana kebutuhan setiap bulan, (2) memberi contoh belanja yang baik, (3) memberi contoh pengelolaan keuangan dengan sistem amplop, (4) keuangan keluarga terbuka, dan (5) memberi contoh menabung. Pada umumnya para ibu tidak merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini, merupakan pembelajaran yang sangat berarti bagi anak-anaknya kelak di kemudian hari.

Dengan temuan Prof. Mintarti, paling tidak kita memiliki gambaran bagaimana cara mencegah konsumerisme di masa depan. Hilgert menyatakan bahwa hubungan antara pengetahuan ekonomi dan tingkah laku ekonomi, di usia dini, akan sangat mempengaruhi dalam mengatur keuangan keluarga di masa datang, karena dapat membentuk sikap ekonomi yang rasional. Pengetahuan ekonomi yang bagus di usia muda, akan membantu kehidupan di masa depan yang lebih baik. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa di usia kita sebagai mahasiswa kini, kelak beberapa tahun ke depan kita akan menjadi orang tua bagi generasi berikutnya. Sebagai agent of change, nilai-nilai pendidikan ekonomi terhadap lingkungan perlu kita sosialisasikan secara mendalam. Apabila generasi kita sudah terlambat menerima pendidikan ekonomi untuk mencegah konsumerisme, paling tidak kita dapat mendidik generasi anak-anak kita agar tidak terjebak pada konsumerisme yang mencelakakan, agar generasi masa depan dan bangsa Indonesia tidak semakin sengsara!

“Kami bukan pembangun candi/

Kami hanya pengangkut batu/

Kamilah angkatan yang mesti musnah/

Agar menjelma angkatan baru/

Di atas pusara kami/

Lebih sempurna.”

(Henriette Rolland Holst)

Rujukan

I Gede A.B. Wirananta. 2018. Antropologi Budaya. Bandung: Citra Aditya Bakti

Sri Umi Mintarti Widjaja. 2016. Model Pendidikan Ekonomi Anak Usia Dini Untuk Membendung Sikap Kosumerisme pada Usia Dewasa. Malang: Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar.

Wasisto Raharjo Jati. 2015. Less Cash Society: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia, Jurnal Sosioteknologi, Vol. 14, No. 2.

Penulis: Arrial Thoriq Setyo RifanoMahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Penyunting: Mita

*Redaksi siarpersma.id menerima tulisan dari semua orang yang memiliki keberanian untuk menulis dan ditelanjangi pemikirannya. Klik Mari berkontribusi

Tinggalkan Balasan